Urutan Reaksi Enzimatis Penggumpalan Darah dan Faktor Pembekuan Darah

Pembekuan darah memegang peranan yang penting untuk mencegah banyaknya darah yang hilang dari pembuluh darah yang terluka. Koagulasi tergantung dari pembentukan jaringan yang pekat dari benang (serat) protein fibrin. Platelet darah (trombosit), sel-sel darah merah (RBC) dan WBC terperangkap dalam jaringan tersebut. Proses pengerutan pada penjendalan darah menghasilkan cairan bening (serum).

Apabila darah diaduk / digojog / disentrifus potein fibrin tidak akan terbentuk atau tersingkir sehingga tidak terjadi penggumpalan darah. Untuk kepentingan tranfusi darah dan analisa sering ditambahkan zat antikoagulasi untuk mencegah terjadinya penjendalan darah. Zat antikoagulasi yang sering dipakai adalah heparin, EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid). Sodium citrate, sodium, potassium ammonium oxalate dan fluoride juga dapat digunakan sebagai zat antikoagulasi.


Urutan Reaksi Enzimatis Penggumpalan Darah

A. Fase kontak atau pengaktifan mekanisme penggumpalan
B. Pengaktifan faktor X
C. Pembentukan thrombin
D. Pembentukan fibrin yang tidak larut

Faktor Pembekuan

Ada 13 faktor yang sangat berperan penting dalam urutan proses pembekuan darah. Faktor-faktornya sbb:

I. Fibrinogen
II. Protrombin
III. Tromboplastin
IV. Calsium
V. Proaserin, Faktor labil, Globulin aselerator
VII. Prokonvertin, SPCA, Faktor Stabil
VIII. Faktot antihemofili (AHF), Antihemofili Faktor A, Globulin Antihemofili (AHG)
IX. Plasma Tromboplastin Komponen (PTC)
X. Faktor Stuart Power
XI. Plasma Tromboplastin Antesewden (PTA), Faktor Antihemofili C
XII. Faktor Hageman, Faktor Glass
XIII. Fibrin-Stabilizing Faktor, Faktor Laki-Lorano (LL)
erythrocytes
Sel pada sistem reticuloendotelial akan merusak erythrocytes yang lemah dan tua. Sel-sel tersebut dikenal sebagai histiocyte, macrophages atau clasmatocytes yang ukuran, bentuk dan lokasinya bervariasi. Sel-sel tersebut merusak erythrocytes yang tua dengan cara ingesting.

Sel-sel reticuloendothelial termasuk pula stellate atau kupffer, yang didapat pada dinding sinus darah pada hati. Sel-sel ini sama dengan sel-sel pada spleen (limpa) dan sel-sel tertentu pada sumsum tulang dan nodus limpatikus. Pada saat erythrocytes dirusak, maka Fe yang terkandung dalam Hb disimpan, sedangkan bagian pigmen diubah menjadi pigmen empedu dan menjadi produk eksretory. Hati dan limpa merupakam tempat penyimpanan Fe yang tidak segera digunakan dalam memproduksi hemoglobin baru.

Sel-sel reticuloendothelial pada organ-organ yang berbeda sangat penting dalam pengrusakan erythrocytes. Pada anjing pembentukan pigmen empedu terjadi pada sumsum tulang merah dan ini merupakan tempat pengrusakan erythrocytes juga. Sedangkan pada manusia mayoritas terjadi di limpa, pada bangsa burung dan kebanyakan hewan lainnya terjadi di hati.