Doa Sang Peternak

“Ya Allah ya Tuhan kami. Tuhan Yang Memiliki kekuatan. Ijinkan aku berdiri tegar di hadapan ribuan makhluk-Mu. Aku hendak membaktikan sisa hidupku untuk kepentingan umat manusia. Aku sangat bersyukur karena Engkau telah menambahkan ilmu-Mu kepadaku. Aku sangat bahagia karena Engkau memberkati aku dengan berbagai macam kecerdasan dan kelebihan. Puji syukur kupanjatkan kepada-Mu, yang telah memilihkan jalan ini. Aku ikhlas. Aku rela dengan pemberianmu. Sesedikit atau sebanyak apapun itu. Rabb, melalui Rasulmu Engkau pernah bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Aku sangat yakin bahwa Engkau adalah benar. Janjimu adalah benar. Rasulmu adalah benar. Al-Qur’anmu adalah benar. Dan akhiratmu adalah benar. Maka, ampunilah aku.”
“Rabb, dengan menggeluti dunia peternakan yang menjadi bagian hidupku dan bangga dengan statusnya, aku akan menggapai empat nilai perbuatan manusia. Dengan beternak dan menjadi peternak aku akan bekerja dan menghasilkan banyak uang. Secara materi aku tidak akan lagi kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanku semasa hidup di dunia ini. Bukankah dunia peternakan dari hulu, budidaya, sampai ke hilir menawarkan nilai materi yang menggiurkan?”
“Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak, aku akan menolong manusia untuk bisa mendapatkan penghidupan. Dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang menyerap para pengangguran yang jumlahnya kian hari kian bertambah akibat tindak kezaliman para penguasa negeri kami. Mereka yang kami pilih sebagai wakil kami, untuk mengurus urusan kami, kenyataannya mereka tak pernah memperhatikan nasib dan urusan kami. Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak aku juga akan menolong manusia dari kebodohan dan dari berbagai macam penyakit yang bisa membinasakan kehidupan umat manusia. Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi jika Engkau tidak mengasihi umat manusia dengan memberikan makanan yang halal lagi baik berupa susu, daging dan telur yang bernilai gizi tinggi itu dengan perantaraan kami.”
“Ya Tuhan kami, dengan beternak dan menjadi peternak, aku akan belajar berdisiplin. Berdisiplin waktu, pikiran dan tenaga. Bukankah Engkau mewajibkan dan mensunahkan shalat kepada kami supaya kami belajar berdisiplin? Aku juga akan berbuat dan berkata jujur. Bukankah ayam-ayam kami yang kelak akan kami pelihara adalah contoh nyata bagaimana kami harus berbuat jujur? Ayam akan berproduksi sesuai dengan makanan yang kami berikan. Jika sedikit pakan yang kami berikan maka akan sedikit pula daging dan atau telur yang akan ia hasilkan. Dan begitu pula sebaliknya. Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak kami juga akan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Kami akan belajar dan berbuat selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Kami juga akan menjadi manusia yang penuh semangat dan antusiasme. Kami juga akan menjalin kerjasama dengan orang lain dengan cara yang terbaik. Kami akan menjadi teladan dan meneladani bagi dan dari orang lain. Dan tak lupa, kami juga akan berpikir dan berbuat maju demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat kami.”
“Rabb, dengan beternak dan menjadi peternak aku berharap akan mendapatkan keridloan-Mu. Kebahagiaan apalagi di kehidupan ini yang bisa melebihi keridloan-Mu. Untuk itu, aku akan melakukan hal-hal yang akan mendatangkan keridloan-Mu kepadaku. Dan, aku akan menjauhi hal-hal yang akan mendatangkan murka-Mu. Sesungguhnya hukum benda-benda dari-Mu sudahlah jelas: halal dan haram. Dan, hukum perbuatan kami dari-Mu juga sudah jelas: wajib, sunah, jaiz (boleh), makruh, dan haram. Tolong kami ya Rabb untuk kami tetap berjalan di jalanmu yang lurus. Sadarkan kami jika kami menyimpang dari jalan-Mu.”
“Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”