20 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Kualitas Susu

Jumlah produksi dan kualitas susu yang dihasilkan oleh sapi perah sangat berfariasi. Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap tingginya produksi dan kualitas susu ditentukan oleh banyak faktor, faktor yang satu dengan lainnya sangat erat kaitannya. Faktor – faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.

FAKTOR GENETIK

Pengaruh genetik terhadap produksi dan kualitas susu sekitar 25 – 30 %. Faktor genetik yang mempengaruhi produksi dan kualitas susu antara lain :
Bangsa (Breeds)

Bangsa – bangsa sapi perah yang besar (large breeds) Holstein dan Brown Swiss jumlah produksi susunya lebih banyak daripada bangsa sapi yang kecil (small breeds) seperti Jersey dan Guernsey. Tetapi bangsa sapi perah yang kecil persentase kadar lemak susunya lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bangsa – bangsa sapi perah yang besar. Tidak semua bangsa sapi yang besar mempunyai produksi susu yang besar pula, akan tetapi produksi susu yang tinggi itu umumnya diperoleh dari bangsa sapi perah yang besar. 

Menurut data hasil penelitian yang dihimpun Dairy Herd Improvement Association (DHIA) tahun 1965 –1966 menunjukkan bahwa bangsa – bangsa yang berbeda menunjukkan perbedaan jumlah produksi susu, kadar lemak, produksi lemak, dan jumlah pendapatan setelah dikurangi biaya pakan. Dalam penelitian tersebut sapi – sapi yang digunakan terdiri : Sapi Holstein 81,5% ; Sapi Guernsey 8,0% ; Sapi Jersey 6,0% ; Sapi Brown Swiss 2,0% ; Sapi Ayrshire 2,0% ; dan Sapi Milk Shorthorn 0,5%.
Hasil penelitian menunjukkan :
  1. Urutan tingkatan jumlah produksi susu sapi – sapi tersebut di atas adalah : Holstein, Brown Swiss, Ayrshire, Guernsey, Milk Shorthorn, dan Jersey.
  2. Sedangkan urutan tingkatan kadar lemak susu adalah : Jersey, Guernsey, Brown Swiss, Ayrshire, Milk Shorthorn / Holstein.
  3. Mengenai urutan jumlah produksi lemak susu adalah : Holstein, Brown Swiss, Guernsey, Jersey, Ayrshire, dan Milk Shorthorn.
  4. Mengenai pendapatan setelah dikurangi biaya pakan selama satu tahun adalah : Holstein, Guernsey, Ayrshire, Jersey, Brown Swiss, dan Milk Shorthorn.

Faktor Individu

Data yang dihimpun Holstein – Friesian Assosiasi di Amerika menunjukkan bahwa setiap individu pada bangsa yang sama mempunyai perbedaan jumlah produksi susu dan lemak. Berdasarkan perincian produksi susu Mature Equivalen (ME) diklasifikasi menjadi : Sempurna (Excelent), Sangat Bagus (Very good), Bagus Plus (Godd Plus), Bagus (Good), Cukup (Fair), dan Kurang (Poor).
Faktor Keturunan (Inheritance)

Variasi kemampuan sapi untuk menghasilkan susu, lemak dan bahan padat bukan lemak (solid-non-fat = SNF) merupakan sifat keturunan. Pada prinsipnya bahwa faktor keturunan pada bangsa-bangsa sapi perah yang telah melalui seleksi dalam pembibitan secara cermat selama ratusan tahun diperoleh sapi yang mampu menghasilkan jumlah produksi susu tinggi. Mengenai faktor keturunan kemampuan memproduksi susu tidak lepas dari normalitas dari besarnya tubuh, kemampuan menampung/mencerna makanan, besarnya ambing, ketahanan terhadap penyakit dan kerasnya ambing. Kemampuan tiap individu sapi untuk memproduksi susu ditentukan juga oleh sifat-sifat karakteristik keturunan, meliputi panjangnya periode produksi tertinggi (percistency). Faktor-faktor yang diwariskan di dalam menentukan kapasitas produksi susu juga ditentukan oleh tingkatan kandungan dan imbangan jumlah hormon.
Sifat-sifat keturunan tampak jelas bedanya pada sapi tipe potong yang mampu mengubah makanan menjadi daging. Tetapi pada sapi perah mampu mengubah makanan menjadi susu. Dari hasil-hasil penelitian banyak memperoleh pembuktian adanya kebenaran faktor-faktor keturunan seperti tersebut di atas. Hasil penelitian di University of Illinois 1911-1919 diperoleh hasil, apabila bangsa sapi Holstein dipersilangkan dengan pejantan bangsa sapi Guernsey, atau sebaliknya maka jumlah produksi susu pada anaknya kurang lebih setengah dari jumlah produksi kedua tetuany. Sapi-sapi yang dipakai penelitian baik sapi Holstein maupun Guernsey umurnya rata-rata 2,8 tahun dan diperah dua kali setiap hari. Produksi susu sapi-sapi Holstein rata-rata 7,763 pound. Sapi-sapi Guernsey produksi susu rata-rata 4.617 pound, F1 dari hasil persilangan produksi susunya adalah 6.412 pound.

Faktor Lama Laktasi (Length of Lactation).

Sapi setelah melahirkan, lima hari pertama menghasilkan kolostrum. Pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat, dan puncak (peak) produksi susu dicapai pada hari ke-30 – 60 atau minggu ke- 3 – 6 atau bulan ke- I – II. Setelah puncak produksi dicapai selanjutnya produksi susu cenderung menurun sampai sapi kering (tidak menghasilkan susu) atau sapi dikeringkan (pemerahan dihentikan karena sapi sudah bunting 7 bulan). Pada saat produksi susu meningkat, kadar lemak dan kadar protein menurun. Sedangkan pada saat produksi susu menurun, kadar lemak dan kadar protein meningkat. Hubungan produksi susu dengan kadar lemak terjadi korelasi negatif, artinya pada saat produksi susu mencapai puncaknya, kadar lemak terendah. Grafik produksi susu selama masa laktasi
Yapp (1955) menyebutkan bahwa 50% produksi susu selama masa laktasi (calving interval 12 bulan) diperoleh selama 4 (empat) bulan pertama setelah melahirkan, sedangkan pada bulan ke-10 (produksi bulan terakhir pada calving interval 12 bulan) hanya 6% dari produksi selama masa laktasi (10 bulan). Sesuai dengan data dari perusahaan sapi perah di Biara Rowoseneng Temanggung Jawa Tengah, dan data dari Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Timan-Soetarno, 1975) menunjukkan adanya persamaan dengan data tersebut di atas. Data selengkapnya proporsi produksi susu selama masa laktasi (10 bulan)

Data dari 428 ekor sapi yang sedang dalam keadaan laktasi di Iowa Experiment Station menunjukkan puncak produksi susu selama laktasi pada sapi Jersey dan Guernsey tertinggi diperoleh pada bulan pertama setelah beranak, sedangkan sapi-sapi Holstein dan Ayrshire produksi susu tertinggi dicapai pada bulan kedua, dan setelah itu penurunannya sama dengan bangsa-bangsa lain. Disini terlihat bahwa lamanya laktasi berpengaruh terhadap tingginya produksi susu.

Mengenai kadar lemaknya menurut hasil penelitian di University of Missouri (dengan 299 ekor Jersey, 3763 ekor Guernsey dan 95 ekor Holstein), menunjukkan bahwa bangsa sapi Jersey dan Guernsey kadar lemaknya turun sampai bulan kedua dan bulan-bulan selanjutnya berangsur-angsur naik hingga pada bulan kesembilan atau kesepuluh, setelah itu kenaikannya lebih besar. Pada bangsa sapi Holstein pada prinsipnya juga demikian, tetapi dengan perkecualian titik terendah kadar lemaknya dicapai sampai bulan ketiga 

Intensitas Persistensi Produksi Susu Selama Laktasi.
Seperti dijelaskan di muka, sapi perah setelah melahirkan, pada awal laktasi produksi susu meningkat. Grafik 10.1 menunjukkan puncak produksi susu dicapai sekitar minggu ke- 3-6 atau bulan I-II. Setelah puncak produksi dicapai, produksi susu selanjutnya rata-rata cenderung menurun.

Bagi sapi yang mempunyai kemampuan mempertahankan puncak produksi (peak) secara terus-menerus (intensity persistency) selama laktasi, ini sangat menguntungkan karena sangat menentukan jumlah produksi. Sapi-sapi yang mempunyai tingkatan puncak produksi yang sama selama laktasi, tetapi total produksi dapat berbeda 50%, hal ini disebabkan adanya perbedaan persistency.
Sapi yang mempunyai kemampuan mempertahankan produksi susu tertinggi selama laktasi, menunjukkan bahwa sapi tersebut persistensinya bagus (good persistency). Sedangkan sapi yang persistensinya jelek (poor persistency) tidak mempunyai kemampuan mempertahankan puncak (peak) produksi yang dicapai. Curve produksi susu sapi-sapi perah yang mempunyai persistensi bagus (good persistency), persistensi rendah (poor persistency) serta rata-rata (average persistency)Persistensi yang lebih tinggi dari curve rata-rata selama laktasi adalah curve yang dikehendaki. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingginya persistensi antara lain :
  1. Umur (Age) Sapi perah umumnya menunjukkan persistensi tinggi selama laktasi pertama daripada laktasi berikutnya. Hal ini dapat dijelaskan, sapi yang beranak pertama kelenjar susu (mammary glands) lebih kecil daripada sapi yang sudah dewasa, sehingga jumlahprolaktin yang disekresikan mungkin mencukupi menjaga keseimbangan tingginya persistensi bagi kelenjar susu yang kecil, dan kurang mencukupi bagi produksi susu yang lebih tinggi pada sapi yang sudah dewasa produksi (maturity)
  2. Musim (Season) Pengaruh musim terhadap persistensi produksi susu, terlihat pada sapi-sapi yang beranak pada musim gugur (fall). Penelitian di Michigan menunjukkan bahwa sapi-sapi yang diberi pakan di kandang persistensi produksi susu lebih bagus dibanding sapi-sapi yang dilepas di umbaran.
  3. Kebuntingan (Pregnancy) Penelitian di Missouri menunjukkan bahwa pengaruh kebuntingan terhadap persistensi poduksi susu baru terlihat setelah lama kebuntingan lima bulan. Pada saat kebuntingan lima bulan terjadi penurunan persistensi produksi susu lebih cepat dibanding dengan sapi yang belum bunting. Rupanya penurunan produksi susu sekitar 450 pound disebabkan nutrisi yang semula untuk kelenjar susu beralih ke uterus untuk pertumbuhan dan pemeliharaan janin.
  4. Sisa Susu (Residual Milk) Ada kaitan yang erat antara persistensi dengan persentase sisa susu di dalam ambing.Makin sedikit sisa susu di dalam rongga ambing menyebabkan tekanan di dalamnya semakin rendah, sehingga susu yang ada di kelenjar susu akan turun, dan selanjutnya akan memperbesar sekresi susu. Dengan demikian makin kecil sisa susu waktu pemerahan, persistensi produksi susu makin meningkat.
  5. Menyusui (Nursing) Sampai saat ini masih ditemukan di New Zealand bahwa sapi disusu oleh dua atau tiga pedet pada awal laktasi. Setelah itu sapi-sapi tersebut dikembalikan ke kelompoknya. Data menunjukkan bahwa sapi yang disusui pedet pada awal laktasi, total produksi susunya lebih tinggi daripada yang tidak disusu pedet. Hal ini dapat dijelaskan selama sapi disusu memberikan ketenangan dan memberi stimulasi lebih besar untuk menghasilkan susu dibanding apabila sapi diperah dengan tangan atau mesin. Dengan demikian pengaruh sundulan pedet yang prekuen pada ambing sapi akan menghasilkan susu lebih banyak seperti halnya apabila sapi diperah lebih prekuen (lebih dari dua kali) sehari, dan persistensi produksi susu akan lebih tinggi.

Estrus

Siklus reproduksi mempunyai pengaruh kecil terhadap produksi susu, kecuali pada hari saat berlangsungnya heat jumlah produksi susu dan persentase kadar lemak menurun sangat hebat. Hasil penelitian di State College of Washington diperoleh data pengaruh siklus estrus terhadap poduksi susu. Dalam penelitian tersebut sapi-sapi diobservasi delapan hari sebelum sampai 11 hari sesudah estrus. Adapun hasil-hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pada permulaan periode laktasi (20 sampai dengan 50 hari setelah beranak) tidak tampak adanya pengaruh estrus terhadap produksi susu. Tetapi makinlama periode laktasi (lebih dari 50 hari) pada saat estrus terjadi penurunan produksirata-rata 1,9 lb/hari untuk pemerahan dua kali sehari, sedangkan untuk pemerahan tiga kali sehari penurunannya lebih kecil.
2. Pada umumnya dua hari sebelum dan dua sampai tiga hari sesudah heat produksi susu lebih tinggi daripada hari-hari lainnya selama di dalam observasi.
3. Produksi susu dan lemak pada tiga, empat dan lima hari sebelum estrus lebih rendah daripada waktu lainnya, kecuali pada delapan hari setelah estrus.
4. Pengaruh umur, bulan pada waktu estrus dan panjang siklus estrus terhadap produksi pada saat estrus sangat kecil (tidak nyata).

Hormonal

Salah satu faktor yang menentukan tingginya produksi susu sapi perah adalah pengaruh optimalitas sekresi hormon warisan dari tetuanya (ayah dan induk). Apabila rata-rata sekresi hormon yang mempengaruhi produksi susu mengalami defisiensi, kapasitas sekresi susu akan terbatas. Bahkan rendahnya produksi susu juga dapat terjadi karena disebabkan defisiensi salah satu hormon. Hormon yang berpengaruh terhadap produksi susu sapi antara lain :
1. Prolaktin (Laktogen)
Hormon prolaktin disekresi dan ditampung di dalam glandula pituitaria anterior. Pada akhir kebuntingan jumlah esterogen meningkat. Salah satu pengaruh estrogen adalah menstimulir sekresi prolaktin. Setelah sapi melahirkan, sundulan pedet waktu menyusu atau palpasi waktu pemerahan baik dengan tangan maupun dengan mesin menstimulir sekresi prolaktin.
Hormon prolaktin berperan meningkatkan aktivitas enzim sel-sel epithel mengubah berbagai unsur pokok darah menjadi komponen susu. Tanpa adanya prolaktin, sel-sel kelenjar susu tidak akan menghasilkan susu. Makin banyak prolaktin, makin besar pula gertakannya dan makin keras bekerjanya kelenjar susu, sehingga makin besar pula hasil susunya.

Mengapa produksi susu akan lebih banyak apabila pedet dibiarkan menyusu induknya daripada sapi diperah dengan tangan atau mesin. Hal ini dapat dijelaskan apabila pedet menyusu langsung produksi susu akan lebih tinggi karena frekuensi stimulasi dari pedet lebih banyak daripada diperah dengan tangan atau mesin dua kali sehari. Apabila sapi diperah dalam keadaan takut menyebabkan sekresi prolaktin terganggu sehingga sekresi susu juga terhenti. 

Banyaknya prolaktin yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yaitu kelenjar pituitaria tergantung besar dan beratnya kelenjar yang menghasilkan. Menurut hasil penelitian menunjukkan ternyata pada sapi potong hormon yang dihasilkan glandula pituitaria lebih kecil daripada sapi perah, dan hormon tersebut naik setelah partus. Dengan adanya stimulasi pada waktu pemerahan menyebabkan adanya pelepasan hormon dari pituitaria ke dalam aliran darah. Jumlah hormon prolaktin menurun setelah periode laktasi berjalan lama.

Pengaruh hormon prolaktin telah diteliti/dibuktikan Suwadi-Sindoeredjo (1960) pada seekor sapi perah Grati, berat badanya setelah beranak 412 kg, dan pada permulaan laktasi mendapat makanan yang mengandung protein 14 persen dan menghasilkan susu 11 liter/hari. Kemudian makanannya dikurangi hingga menurut perhitungan hanya cukup untuk memelihara hidupnya saja, yaitu 35 kg rumput 1 (satu) kg makanan penguat, yang terdiri dari dedak, bungkil kelapa, dan sedikit garam yang kesemuanya mengandung protein 8 persen, susunya turun menjadi 9,7 liter/hari, jadi kurang 1,3 liter dari semula. Tetapi sesudah satu bulan ternyata sapi tersebut menjadi begitu kurus dan lemah sehingga hampir tidak dapat berdiri dan berat badannya menjadi 357 kg, jadi turun kurang lebih 55 kg. Dari contoh tersebut di atas, menurut peneliti ditarik kesimpulan bahwa sapi menghasilkan susu itu terdorong oleh prolaktin dengan mengambil sebagian besar bahan-bahan yang diperlukan dari tubuhnya guna pembentukan susu. 
2. Thyroxine.
Hormon thyroxine disekresi oleh glandula thyroid (kelenjar gondok) dan ini penting pada waktu sapi dalam keadaan laktasi sebab dapat meningkatkan nafsu makan, denyut jantung, aliran darah ke kelenjar susu, dan sekresi susu. Thyroxine merupakan pengatur utama kecepatan/meningkatkan metabolisme dasar ( basal metabolic rate = BMR). Penelitian di Missouri menunjukkan bahwa rata-rata sekresi thyroxine setiap harinya pada sapi potong hanya sebanyak setengahnya sapi perah. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa sekresi thyroxine pada sapi perah di musim panas (summer) hanya sepertiganya musim dingin. Peneliti lain menyebutkan sekresi thyroxine rendah pada saat cuaca panas. Apabila sapi perah yang sadang laktasi dilakukan thyroidectomy (kelenjar gondok dihilangkan) terjadi penurunan sekresi susu sampai 75 persen. Sekresi susu dapat dipulihkan dengan suntikan thyroxine. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pengaruh thyroxine terhadap produksi susu dapat dibuktikan apabila hormon thyroxine disuntikkan pada sapi yang sedang laktasi ternyata kemampuan memproduksi susu meningkat.
3. Hormon Pertumbuhan
Hormon Pertumbuhan (growth hormon) merupakan hormon yang disekresikan glandula pituitaria anterior. Walaupun hormon pertumbuhan penekanannya untuk kecepatan pertumbuhan pada ternak muda, hasil eksperimen menunjukkan bahwa hormon tersebut mempengaruhi precursor susu, meningkatkan tersedianya glucosa dalam darah, asam amino, dan asam lemak di dalam sel-sel kelenjar penghasil susu.
4. Hormon Parathyroid
Hormon parathyroid berperan mengontrol konsentrasi calsium dan phosphor darah. Hormon tersebut sangat penting mengontrol mineral jangan sampai berlebihan dalam sekresi susu.
5. Hormon Adrenalin
Hormon adrenalin dihasilkan oleh kelenjar adrenalis penting untuk menormalkan fungsi tubuh, tetapi jumlah tinggi mendepres sekresi susu. Sekresi hormon adrenalin meningkat saat stres dan menahan keluarnya susu (hold up her milk) karena menyebabkan pembuluh darah berkontraksi/penyempitan, atau menyebabkan peranan hormon oksitosin menurun. Hal ini dapat terjadi apabila ada gangguan dari luar yang menimbulkan ketakutan atau kegelisahan (stres) pada sapi.
6. Hormon Oksitosin
Hormon oksitosin (oxytocine hormone) dihasilkan oleh glandula pituitaria pars posterior yang letaknya di dasar otak. Proses pelepasan hormon oksitosin dapat terjadi apabila sapi mendapat rangsangan dari luar. Mengenai kebenaran pengaruh hormon oksitosin ini sesuai hasil penelitian apabila hormon oksitosin disuntikkan pada sapi perah yang sedang laktasi dapat meningkatkan produksi susu sampai tujuh liter per hari. Kenaikan produksi susu tersebut pengaruhnya bersifat sementara. Dengan adanya penyuntikan tersebut pengaruhnya terlihat sampai pertengahan laktasi, napsu makannya tampak baik.

Penelitian lebih lanjut, apabila sapi yang sedang laktasi disuntik dengan hormon oksitosin langsung ke dalam arteri pudica eksterna yang menuju ke ambing bagian kanan, pemerah dalam waktu singkat akan mendapatkan susu dari ambing bagian kanan, tetapi pada ambing sebelah kiri tidak mengeluarkan susu. Baru kira-kira 50 – 60 detik setelah oksitosin disuntikkan ambing bagian kiri juga mulai melepaskan susu secara normal. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa hormon oksitosin jelas berperan membantu proses pelepasan susu (let down of milk).

Lama Bunting

Penelitian di State College of Washington pada sapi-sapi yang dikawinkan 60 hari setelah beranak, ternyata baik yang sudah bunting maupun yang belum, pada hari-hari berikutnya keduanya terjadi penurunan produksi susu tidak signifikan. Tetapi setelah kebuntingan antara enam sampai tujuh bulan penurunan produksi susu sapi yang bunting lebih cepat dari pada yang tidak bunting. Yang bunting penurunannya sampai tiga-empat kali lebih cepat daripada sebelumnya. Penurunan produksi susu yang besar itu diperkirakan karena besarnya perubahan imbangan hormon, serta kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan fetus sekitar 400 sampai 600 lb susu. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya kecenderungan perbedaan penurunan produksi pada sapi-sapi laktasi I dan II umur 2-3 dan 3-4 tahun penurunannya lebih lambat daripada sapi-sapi yang lebih tua.

Umur (Age of Cows)

Sapi-sapi di daerah subtropis yang berasal dari Bos Taurus, dewasa produksi atau produksi susu tertinggi (mature cows) dicapai pada laktasi IV atau V umur sekitar 5-6 atau 6-7 tahun. Apabila sapi beranak pertama umur 2-3 tahun, dengan jarak beranak berikutnya (calving interval) 12 bulan, lama laktasi 10 bulan (305 hari), dewasa produksi atau produksi susu tertinggi (100%) dicapai pada laktasi IV (umur sekitar 5-6 tahun), produksi susu laktasi I, II, dan III (umur 2-3, 3-4, dan 4-5 tahun) masing-masing rata-rata sekitar 70, 80, dan 90% produksi mature cows ( 100%). Kalau produksi tertinggi (mature cows) dicapai pada waktu laktasi V (umur sekitar 6-7 tahun) produksi susu laktasi I, II, III, dan IV (umur 2-3, 3-4, 4-5, dan 5-6 tahun) masing-masing rata-rata sekitar 70, 80, 90, dan 95% produksi mature cows (100%).
Setelah produksi tertinggi (mature cows) dicapai, biasanya produksi susu menurun secara berangsur-angsur tanpa menunjukkan tanda-tanda penurunan yang jelas hingga umur 10-12 tahun. Sapi-sapi yang beranak pada umur sekitar 8, 9, 10, 11, dan 12 tahun, produksi susu rata-rata sekitar 99, 98, 96, 94 dan 91%-nya mature cows. Setelah sapi umur di atas 12 tahun biasanya sapi dikeluarkan dari perusahaan karena adanya gangguan reproduksi dan gangguan kesehatan. Kadang-kadang sapi mampu menghasilkan susu secara teratur sampai umur 15 tahun atau lebih.
Berdasarkan hasil olahan data catatan produksi susu (Timan-Soetarno, 1975) sapi-sapi Holstein di Peternakan sapi perah di Biara Rowoseneng, Temanggung Jawa Tengah yang diimpor langsung dari Negeri Belanda tahun 1965 dalam keadaan bunting (diantaranya tiga ekor melahirkan di perjalanan), menunjukkan adanya pengaruh faktor umur terhadap produksi susu. Olahan data produksi susu sapi perah Holstein di Biara Rowoseneng tersebut di atas menunjukkan adanya kesamaan dengan Anderson et. al. (1963) menjelaskan, kalau sapi dalam kondisi normal produksi susu pada sapi heifer beranak pertama pada umur 2-3 tahun produksinya 70-77 %nya bila dibandingkan dengan produksi mature cows. Sapi yang beranak kedua dan ketiga masing-masing umur 3-4 tahun dan 4-5 tahun masing-masing produksi susu sebanyak 80-87% dan 90 sampai 95%nya mature cows (umur lima sampai tujuh tahun), laktasi keIV.
Data yang dilaporkan U.S. Department of Agriculture (USDA) yang bersumber pada Dairy Herd Improvement Registry (DHIA) dalam Farmer's Bulletin 1443, June 30, 1966 menunjukkan bahwa bangsa-bangsa sapi perah yang masih pure breeds antara lain ayrshire, Brown Swiss, Guernsey, Holstein Friesian dan Jersey, selain jumlah produksi susu selama periode laktasi tidak sama, juga dari tiap bangsa tersebut diatas dengan umur yang berbeda menunjukkan produksi susu yang berbeda pula. Pada Tabel 10.7, 10.8, 10.9, 10.10 dan 10.11 menunjukkan bahwa dengan pemerahan 2 kali sehari sapi yang beranak pertama berumur kurang dua tahun (yearlings) produksi susunya selama masa laktasi (305 hari) lebih kecil dibanding dengan sapi yang beranak pada umur 2-2,5 tahun (yunior 2 years-old). Dan sapi yang beranak pada umur 2,5-3 tahun (senior 2 years-old) produksi susu lebih besar dibanding dengan sapi yang beranak pada umur 2-2,5 tahun (yunior 2 years-old),  Untuk memperoleh gambaran produksi susu pada umur yang berbeda selama masa laktasi (305 hari) sederajat dengan produksi susu sapi yang sudah dewasa produksi/ produksi tertinggi/dewasa produksi (mature cows) dapat menggunakan tabel faktor konversi umur Mature Equivalent (ME) Tabel 10.12.
Produksi susu sapi perah di daerah tropik, sapi Sahiwal, Red Sindhi (Sikka, 1931 ; Mahadevan, 1958) pada umur berbeda menunjukkan variasi produksi yang berbeda pula. Sapi-sapi di daerah subtropis (di Eropa) puncak produksi susu dicapai pada laktasi keIV atau keV, sedang pada ternak daerah tropik puncak produksi dicapai pada laktasi keIII atau keIV. Kenaikan produksi dari laktasi pertama sampai produksi maksimal sapi-sapi daerah tropik lebih rendah daripada sapi-sapi di daerah subtropis. Sapi-sapi di daerah tropik murni (sapi-sapi Zebu) di Lahore, Ferosepur, dan Fusa di India jumlah kenaikan produksi dari laktasi pertama sampai produksi maksimum adalah 10%. Di Ceylon kenaikan produksi sapi-sapi Sinhala dan Red Sindhi adalah 15 dan 6%. Sedangkan sapi-sapi perah di negara-negara subtropis (Sapi Bos Taurus) kenaikan produksi susu mencapai 25 sampai 30%. Hal ini kemungkinan disebabkan perbedaan genetis dan perbedaan tingkat manajemen dari dua daerah tersebut.

Sapi-sapi di daerah tropik biasanya beranak pertama satu tahun lebih lambat daripada sapi-sapi di daerah subtropis, dan calving interval juga lebih panjang. Atas dasar dua faktor tersebut di atas menyebabkan sapi-sapi Zebu biasanya pada umur kurang lebih 7 tahun baru mengalami laktasi keIII atau keIV. Sedangkan sapi-sapi di negara Eropa padaumur 7 tahun telah mencapai laktasi yang keV.
Mengenai rendahnya kenaikan produksi dari laktasi yang pertama sampai puncak produksi dicapai pada sapi perah di daerah tropik, menunjukkan suatu bukti adanya hubungan tingkat seleksi yang masih rendah dalam perkembangan bangsa ternak perah di daerah tropik.berdasarkan hasil penelitian dengan adanya perubahan perlakuan dari lima bangsa sapi perah Eropa di Ceylon (Mahadevan, 1958), apabila umur sapi waktu beranak pertama diperlambat (40 bulan) dan panjang jarak beranak 466 hari maka produksi tertinggi pada laktasi yang keIII dengan kenaikan produksi 19-32%. Pada sapi Zebu meskipun di daerah subtropis juga menunjukkan kenaikan produksi lebih sedikit apabila dibanding dengan ternak Eropa yang telah mengalami seleksi.

Disini jelas terlihat bahwa umur sapi pada waktu beranak pertama dan panjangnya calving interval menentukan laktasi dimana produksi tertinggi dicapai tanpa memandang apakah ternak daerah tropik atau subtropis. Mengenai kenaikan produksi susu dari laktasi pertama sampai maturity tampak tergantung dari perbedaan hasil seleksi bangsa ternak tersebut untuk memproduksi susu sejak ternak mengalami domestikasi. Kenyataan menunjukkan bahwa bangsa sapi zebu seleksinya relatif kurang ketat apabila dibanding dengan sapi-sapi Eropa.

Ukuran Badan

Telah disebutkan di muka bahwa bangsa sapi perah yang berukuran besar (large breeds) seperti sapi Holstein dan Brown swiss produksi susunya lebih banyak dari bangsa sapi perah yang berukuran kecil (small breeds) seperti sapi Guernsey dan Jersey.
Tidak semua bangsa sapi perah yang berukuran besar mempunyai produksi susu tinggi, akan tetapi produksi susu yang tinggi umumnya diperoleh dari bangsa sapi yang berukuran besar

FAKTOR LINGKUNGAN

Pengaruh lingkungan terhadap produksi dan kualitas susu sekitar 70-75%. Faktor linkungan yang berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu antara lain :

Faktor Pakan (Feeding)

Pakan merupakan salah satu faktor lingkungan yang turut menentukan optimalitas produksi susu selama laktasi. Ypp (1955) menyebutkan banyaknya serta mutu pakan adalah merupakan salah satu faktor yang penting pengaruhnya terhadap jumlah produksi dan komposisi susu. Pemberian pakan secara bebas dengan kandungan nutrisi yang imbangannya rasional berguna untuk menentukan tingginya produksi susu. Tetapi pemberian pakan yang jumlahnya lebih dari ketentuan tidak akan menaikkan produksi lebih daripada kemampuan sapi. Pemberian pakan jauh di bawah jumlah yang diperlukan akibatnya akan menjadi parah mengenai jumlah produksi maupun komposisi susu. Akibat lebih lanjut berat sapi menurun dan jumlah produksi susu serta tes susu akan jatuh.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Maryland Experiment Station menunjukkan adanya pengaruh pemberian pakan yang berbeda. Penelitian tersebut menggunakan 8 ekor sapi yang dipelihara di daerah pertanian selama satu tahun. Pada tahun berikutnya dengan sapi yang sama dipelihara di suatu tempat dan diberi pakan yang sesuai dengan yang diperlukan.

Mengenai pengaruh pakan terhadap produksi susu juga diteliti oleh New York Experiment Station dimana sekelompok sapi yang telah diseleksi mewakili sapi-sapi di daerah pertanian dekat Cornell University. Selama satu tahun (tahun pertama) sapi-sapi tersebut diberi pakan oleh pemiliknya sendiri, tetapi pencatatan makanan yang diberikan dan produksi susunya dilakukan oleh petugas-petugas penelitian. Setelah itu, dua tahun kemudian (tahun kedua dan ketiga) sapi-sapi tersebut dipelihara di kandang penelitian dan diberi pakan yang rasional sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian pada tahun berikutnya (tahun keempat) sapi dikembalikan di daerah pertanian diberi pakan oleh pemiliknya. Hasil penelitian mengenai produksi susu rata-rata per tahun selama empat tahun dan panjangnya periode laktasi sapi yang dipelihara selama dua tahun di kandang penelitian rata-rata menunjukkan produksi susu dan lemak tiap tahunnya lebih banyak daripada selama tahun pertama di petani. Produksi susu di petani pada tahun keempat lebih tinggi dari tahun pertama, hal ini diduga mungkin disebabkan adanya pemberian pakan yang rasional selama di station. Selain itu karena pemberian pakan yang rasional di station tersebut dapat juga menaikkan panjang peiode laktasi dari 34 menjadi 43 minggu. Tetapi pada tahun keempat setelah sapi dikembalikan ke petani, panjang periode laktasi turun dari 43 menjadi 38 minggu.

Mengenai pengaruh pakan terhadap produksi susu juga telah diteliti di New Jersey Experiment Station. Bagi sapi-sapi yang kering atau produksi rendah cukup diberi hijauan. Tetapi bagi sapi-sapi yang berproduksi tinggi pakan yang demikian kurang cukup untuk memberi energi guna mencapai produksi yang tinggi.Karena sapi hanya diberi hijauan produksi tertinggi tidak akan dapat diharapkan, tetapi kadang-kadang kenaikan produksi dengan pemberian pakan konsentrat tidak cukup untuk menutup harga pakan tambahan tersebut. Dalam keadaan demikian pemberian pakan konsentrat dianggap kurang ekonomis. Ada kalanya produksi yang tinggi diperoleh meskipun sapi hanya diberi pakan hijauan saja, tetapi biasanya produksinya tidak akan sebanyak apabila diberi pakan konsentrat. 

sapi-sapi yang beranak pada musim rontok atau pada musim dingin produksi susu rata-rata selama satu tahun lebih tinggi daripada apabila sapi-sapi beranak pada musim semi atau musim panas. Sapi-sapi yang beranak pada musim semi, pada musim panas produksinya akan turun. Apabila produksi sekali turun, produksi sukar dinaikkan pada musim rontok dan dingin. Sedangkan sapi-sapi yang beranak pada musim rontok, apabila ransumnya rasional, produksi susunya akan tetap baik selama musim dingin, dan apabila pada musim semi sapi-sapi dilepas pada pasture produksi akan tetap dipertahankan. Sedang pada bulan-bulan musim panas sudah mendekati periode kering, produksi susu memang sudah tidak begitu banyak, sedangkan kalau sapi beranak pada musim panas, puncak produksi (peak) adalah paling rendah.

Mengingat sapi-sapi yang beranak pada musim rontok dan musim dingin produksi susu lebih tinggi dari pada sapi-sapi yang beranak musim semi dan musim panas, agar perusahaan yang menjual susu kepada para pelanggan eceran dapat dikirim sepanjang tahun, perlu adanya pengaturan perkawinan.
Pada saat pergantian musim selain berpengaruh terhadap produksi susu, juga mempunyai pengaruh terhadap kualitas susu. Kadar lemaknya rendah pada akhir musim panas dan tinggi pada musim dingin. Apabila sapi beranak pada musim rontok dan dingin jumlah produksi susu maupun jumlah lemaknya lebih tinggi dari pada sapi-sapi yang beranak pada musim semi dan musim panas. Perbedaan produksi ini mempunyai variasi yang berbeda-beda pada setiap daerah. Sesuai Tabel 10.17  bahwa sapi-sapi yang beranak pada musim panas baik jumlah produksi dan jumlah lemaknya paling rendah, sedangkan jumlah produksi susu dan lemaknya paling tinggi adalah sapi-sapi yang beranak pada musim gugur. Perbedaannya diperkirakan sebanyak 10-15%.

Pengaruh musim terhadap produksi susu dan lemak sesuai uraian tersebut di atas disebutkan bahwa sapi-sapi yang beranak pada musim rontok dan musim dingin jumlah produksi susu dan lemaknya lebih tinggi daripada sapi-sapi yang beranak pada musim semi dan musim panas. Mengapa terjadi demikian hal ini dapat dijelaskan sesuai laporan sapi-sapi perah di daerah subtropis temperatur ideal adalah antara 30-600F (-1,11o-15,56oC) dengan kelembaban udara rendah (< 80%) dan temperatur kritis sekitar 80-85oF (26,67o-29,44oC). Apabila temperatur udara naik di atas 60oF yaitu sampai temperatur 80oF pengaruhnya terhadap produksi susu setiap individu adalah kecil.
Temperatur kritis pada sapi Holstein 80,6oF (27oC), Brown Swiss 82,4oF (28oC), Brahman 95oF (35oC).

Apabila temperatur udara naik di atas temperatur kritis maka menyebabkan pengeluaran panas badan terhalang, akibatnya temperatur tubuh sapi naik. mperatur kritis sapi-sapi daerah subtropis adalah sekitar 80-85oF, menyebabkan pengeluaran panas badan terhalang akibatnya temperatur tubuh naik, dan napsu makan menurun drastis. Apabila temperatur udara 100,4oF (38oF) pakan yang dimakan mendekati nol. Hal ini terjadi apabila semata-mata hanya tergantung pada temperatur udara saja. Karena menurut kenyataan faktor kelembaban udara juga penting pada temperatur 75oF ke atas, khususnya pada temperatur 85oF ke atas.

Mengenai penurunan produksi susu pada temperatur kritis adalah sejajar dengan turunnya konsumsi pakan. Sedangkan pada temperatur lingkungan 5oF (-15oC) konsumsi pakan meningkat dan produksi susu menurun 

Menurut laporan DHIA di Arizona menunjukkan bahwa sapi-sapi Holstein mature cows yang beranak pada bulan-bulan musim panas, rata-rata produksi susu selama laktasi 20% lebih kecil daripada sapi-sapi yang beranak selama bulan-bulan musim dingin.

Pengaruh musim terhadap produksi susu diduga juga dialami oleh sapi-sapi di daerah tropik. Berdasar pengolahan data produksi susu sapi-sapi perah Peranakan Friesian Holstein (PFH) di Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan UGM (Timan-Soetarno, 1978, tidak dipublikasikan) menunjukkan adanya perbedaan produksi susu sapi-sapi yang beranak pada musim hujan (wet season) dengan yang beranak pada musim kemarau (dry season). Sapi-sapi yang beranak pada musim hujan produksi susu selama masa laktasi (10 bulan) secara kuantitatif lebih rendah dibanding sapi-sapi yang beranak pada musim kemarau. Rendahnya produksi susu sapi-sapi yang beranak pada musim hujan "diduga" disebabkan: (1). Kelembaban udara pada musim hujan sangat tinggi; (2). Kadar air hijauan (rumput) yang dikonsumsi sangat tinggi, sehingga meskipun konsumsi hijauan (rumput) banyak, tetapi konsumsi bahan kering secara keseluruhan sapi-sapi yang beranak pada musim hujan (wet season) lebih rendah dibanding sapi-sapi yang beranak pada musim kemarau (dry season). Kebenaran dugaan tersebut perlu diuji/ diteliti lebih lanjut.

Faktor Lama Pengeringan

Lama pengeringan atau lama periode kering (length of dry period) menentukan besarnya produksi susu pada laktasi berikutnya. Hal ini penting untuk mengembalikan kondisi ambing dan untuk memberi kesempatan mengganti kelenjar susu yang rusak selama laktasi. Lagi pula kesempatan ini diperuntukkan agar sapi pada waktu beranak kondisi tubuhnya prima. Periode kering yang panjang dapat diharapkan pada laktasi berikutnya akan menghasilkan produksi susu yang tinggi setiap harinya.

Periode kering biasanya dilakukan enam sampai delapan minggu, produksi susu pada laktasi berikutnya akan lebih tinggi daripada kalau periode pengeringannya empat minggu. Pada sapi-sapi yang calving intervalnya 12 bulan pengeringan 60 hari (dua bulan) setiap periode laktasi adalah yang paling tepat.

Kondisi Saat Beranak

Apabila sapi pada saat melahirkan kondisinya menurun atau keadaan sapi kurus, produksi susu akan lebih sedikit jika dibanding dengan sapi yang beranak dalam kondisi baik.
Apabila sapi beranak dalam keadaan prima produksinya 25% lebih banyak dari sapi yang beranak dalam keadaan kurang baik.

Jarak Beranak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuntungan dalam bidang usaha peternakan sapi perah terbesar apabila peternak dapat mengatur sapi perah beranak pertama umur sekitar 2-3 tahun, jarak beranak (calving interval) 12 bulan, dengan masa kering  2 bulan dan lama laktasi (pemerahan) 10 bulan.
Sesuai Tabel 10.4 menunjukkan pada awal laktasi jumlah produksi mencapai 13% total produksi susu selama masa laktasi (10 bulan) Produksi pada bulan-bulan selanjutnya terjadi penurunan, dan pada bulan ke 10 produksi susu pada sapi yang jarak beranaknya satu tahun produksi susu tinggal 6% total produksi selama masa laktasi. Apabila jarak beranak lebih dari satu tahun rata-rata produksi susu per hari akan lebih kecil daripada sapi-sapi yang jarak beranaknya satu tahun.

Frekuensi Pemerahan

Frekuensi pemerahan berpengaruh terhadap tingginya produksi susu setiap harinya. Sapi-sapi yang produksinya tinggi apabila pemerahan dilakukan tiga atau empat kali sehari kalau dibanding dengan pemerahan dua kali sehari, selain meningkatkan produksi susu setiap harinya juga dapat mempertinggi persistensi. Tetapi pada sapi-sapi yang produksinya rendah meskipun pemerahan dilakukan tiga atau empat kali sehari, kenaikannya sangat kecil. Sebaiknya sapi diperah lebih dari dua kali sehari pada saat produksi tinggi yaitu mulai sehabis melahirkan sampai 60 atau 120 hari, dan pada periode laktasi selanjutnya hanya diperah dua kali sehari.

Pemerahan tiga kali sehari dengan interval delapan jam hasilnya akan mencapai 15 samapi 20% lebih banyak daripada pemerahan dua kali sehari. Sedang pemerahan empat kali sehari hasilnya 25 samapi 30% lebih banyak daripada pemerahan dua kali sehari. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan apakah pemerahan lebih dari dua kali sehari tambahan produksinya dapat dipakai untuk menutup gaji pekerja dan ongkos-ongkos lainnya.

Salah satu data dari Herd Improvement Registry Test, bahwa pemerahan tiga kali sehari ternyata produksi rata-ratanya lebih tinggi apabila dibanding dengan pemerahan dua kali sehari, dapat dibuktikan pada sapi-sapi Brown Swiss seperti pada Tabel 10.18.

Faktor Kecepatan Pemerahan

Hasil penelitian di University of Illinois, menyebutkan bahwa pemerahan yang sempurna dibutuhkan waktu secepat mungkin. Kecepatan pemerahan juga dipengaruhi lokasi puting pada ambing maupun besarnya puting. Puting yang cukup besarnya akan memudahkan dalam melakukan pemerahan, baik pemerahan dengan mesin maupun dengan tangan karena keluarnya susu lebih lancar.Seperti disebutkan dimuka, turunnya susu (let down of milk) disebabkan oleh hormon oksitosin yang dihasilkan oleh glandula pituitaria pars posterior yang terletak di dasar otak. Apabila dilakukan rangsangan yaitu mencuci ambing dan putting dengan air hangat, maka syaraf mengirimkan rangsangan tersebut ke otak, yang menyebabkan dihasilkannya hormon oksitosin yang dicurahan langsung masuk ke dalam aliran darah, kemudian diangkut ke ambing, yang menyebabkan muskulus-muskulus yang mengelilingi alveoli dan saluran-saluran kecil (small ductus) berkontraksi.

Sejak adanya rangsangan sampai turunnya susu (let down of milk) membutuhkan waktu 45-60 detik. Pemerah baik dengan tangan atau mesin satu menit setelah ambing dicuci, harus segera dimulai, karena pengaruh hormon oksitosin paling efektif lebih kurang tujuh menit, maka pemerahan harus selesai sebelum waktu tersebut. Kebanyakan pemerahan dapat diselesaikan dalam waktu tiga sampai empat menit, ada kalanya kurang dari waktu tersebut. Tetapi ada juga sapi-sapi yang pemerahannya lambat, hal ini disebabkan adanya putting-putting dan ambing yang menghambat aliran susu sehingga menyebabkan lamanya pemerahan.

Mengenai terjadinya let down of milk, hal ini dapat terjadi dengan adanya rangsangan yang menimbulkan asosiasi proses pemerahan atau rangsangan syaraf pada ujung puting yang peka terhadap sentuhan. Rangsangan yang paling ideal adalah sundulan dan kecutan dari pedet. Sedangkan rangsangan berupa rabaan pada ambing dan puting atau mencuci dengan air hangat adalah metode yang biasa digunakan. 

Pergantian Pemerah (Change of Milkers)

Sapi perah lebih suka diperah secara teratur oleh pemerah yang sama, lebih-lebih pemerahan dengan tangan, pemerah yang bersangkutan merupakan faktor yang sangat penting, lebih-lebi sapi yang produksinya tinggi akibat pergantian pemerah dapat menimbulkan stress, karena pada umumnya sapi sensitif terhadap segala perubahan termasuk pergantian pemerah.

Mengenai pengaruh pergantian pemerah sesuai pengamatan penulis di Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan UGM (tidak dipublikasikan) terdapat dua petugas pemerah (pemerah A dan B). Pemerah A memerah sapi pada pagi hari dan pemerah B memerah sapi pada sore hari.

Apabila pemerah A libur, pemerahan sapi pada pagi dan sore hari dilakukan oleh pemerah B, jumlah produksi susu keseluruhan lebih kecil dari pada produksi susu rata-rata. Apabila pemeah B libur, pemerahan sapi pada pagi dan sore hari dilakukan oleh pemerah A, jumlah produksi susu keseluruhan lebih besar dari pada produksi susu rata-rata. Meskipun pemerah B sudah berusaha sampai puluhan tahun tetap tidak dapat menyamai pemerah A.

Pemerahan Berubah-ubah

Pemerahan yang tidak tetap selain menyebabkan perubahan produksi susu juga komposisinya.
Eksperimen pengaruh pemerahan yang berubah-ubah pernah dilakukan penulis (1975) di peternakan sapi perah di Biara Rowoseneng Temanggung (tidak dipublikasikan), menggunakan lima ekor sapi Holstein, lama laktasi 4-5 bulan frekuensi pemerahan semula dilakukan dua kali sehari dirubah menjadi tiga kali sehari. Kenyataannya semula frekuensi pemerahan dua kali sehari dirubah menjadi tiga kali produksinya pada hari pertama turun dengan drastis, dan pada hari ke tujuh eksperimen dihentikan karena tidak ada kenaikan produksi, dan penulis sadar membuat kesalahan merubah perlakuan, semula pemerahan dilakukan dua kali sehari sudah berjalan 4-5 bulan dan produksi susu sudah menurun (rendah). Seharusnya pemerahan tiga kali sehari dimulai sejak awal laktasi atau saat produksi susu masih tinggi.

Perawatan dan Perlakuan

Sapi perah produksi susu tinggi menghendaki perawatan dan perlakuan yang ramah dan lemah lembut, lebih-lebih pada waktu pemerahan. Waktu melakukan pemerahan hendaknya diusahakan keadaan di sekitarnya harus tenang, jauh dari kegaduhan, harus dihindari gangguan anjing, kehadiran orang-orang yang belum dikenal serta perlakuan yang kasar.

Suasana yang tenang, perawatan dan perlakuan yang baik dan ramah lebih-lebih pada waktu pemerahan akan berpengaruh terhadap jumlah produksi susu. Perawatan dan perlakuan yang tidak teratur dan kasar, serta suasana yang gaduh pada waktu pemerahan menyebabkan sapi jadi takut (stres) mengakibatkan pelepasan susu akan terganggu, kata orang "susunya ditahan". Hal ini disebabkan oleh adanya hormon adrenalin yang dihasilkan oleh kelenjar adrenalis pada buah pinggang yang disebut juga "hormon kemarahan". Hormon adrenalin dicurahkan secara cepat ke dalam darah, menyebabkan pembuluh darah menyempit atau meniadakan pengaruh hormon oksitosin atau menghentikan pengaruh hormon pelepas susu karena kontraksi sel-sel myoepithel terhalang. Oleh karena itu, apabila sapi sedang ketakutan, marah atau dalam kodisi yang tidak normal pada waktu pemerahan, sebaiknya jangan diperah dan ditunggu sampai tenang kembali. Tetapi tidak semua sapi mempunyai kepekaan yang sama terhadap gangguan.

Penyakit

Penyakit pada sapi perah mempunyai pengaruh yang sangat merugikan karena menurunkan produksi susu dan komposisinya. Tingkat pengaruh penyakit terhadap penurunan produksi susu ditentukan oleh jenis dan ganasnya penyakit. Turunnya produksi susu pada umumnya disebabkan karena nafsu makan menurun dan dapat menimbulkan akibat yang sangat drastis, antara lain:
1. Milk fever
Penyakit milk fever atau demam susu juga dikenal sebagai penyakit hypocalcaemia, yang merupakan salah satu penyakit yang sangat ditakuti peternak sapi perah karena sering menyebabkan kematian pada sapi yang produksinya tinggi. 
Timbulnya milk fever disebabkan kadar kalsium dalam darah sapi perah turun sampai di bawah normal. Kadar kalsium darah normal adalah 12 mg/100 ml. Kalsium berperan penting dalam kontraksi otot dan sistem syaraf. Rendahnya kalsium darah menyebabkan terganggunya kontraksi otot dan fungsi otak. Sapi yang produksi susunya tingi membutuhkan kalsium dalam jumlah yang memadai. Hal ini dikarenakan setiap satu liter susu yang dihasilkan mengandung 1,2-1,4 gram kalsium.
Penyakit dini disebabkan adanya gangguan metabolisme mineral pada sapi perah sebelum, sedang dan sesudah beranak. Kejadian ini biasanya menimpa pada sapi perah yang produksi susunya tinggi (awal masa laktasi), yang beranak pada umur 5-10 tahun. Bagi sapi muda atau sapi yang produksi susunya rendah jarang dijumpai kasus ini.

Pada masa bunting sapiperah membutuhkan kalsium dalam jumlah yang tinggi karena kalsium diperlukan untuk pertumbuhan  dan perkembangan janin, dan pada masa awal laktasi kebutuhan kalsium meningkat. Hal ini karena sampai  dengan hari ke 6 sesudah beranak sapi perah menghasilkan susu pertamanya yang disebut kolostrum. Kadar mineral termasuk kalsium pada kolostrum lebih tinggi daripada susu normal. Kurangnya suplai kalsium dari pakan juga dapat memungkinkan terjadinya milk fever.

Milk fever dapat terjadi karena pakan yang diberikan pada sapi perah kekurangan kalsium akan menyebabkan kalsium dalam jaringan tubuh dimobilisasi. Apabila kejadian ini terus berlanjut, kalsium darah akhirnya akan termobilisasi juga yang akibatnya kadar kalsium daran dapat menurun sampai dibawah normal.

Milk fever dapat terjadi pula  karena gangguan pada kelenjar parathyreoidea yang menghasilkan hormon parathyreoid.  Hormon ini berfungsi sebagai pengatur kadar kalsium darah. Terhambatnya sekresi hormon parathyreoid akan menyebabkan kadar kalsium darah menurun.
Gejala milk fever pada awalnya sapi kelihatan gelisah, temperatur tubuhnya menurun sampai dibawah normal, nafsu makannya hilang, kaki belakang menjadi lemah dan sulit digerakkan, sehingga kalau berjalan nampak sempoyongan. Sapi tidak dapat menelan, air liur keluar secara berlebihan dari mulut (hypersalivasi) dan tidak sanggup mengadakan ruminansi (memamah biak). Matanya seperti mengantuk, sapi berbaring terus-menerus dengan posisi kepalanya diletakkan disamping tubuhnya dan tidak memberikan reaksi terhadap rangsangan. Pada keadaan lebih lanjut sapi mengalami kejang otot, kelumpuhan dan kehilangan kesadaran, bahkan sapi bisan pingsan.
Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan kadar kalsium darah dan mengurangi jumlah kalsium yang  keluar dari tubuh. Cara yang biasanya ditempuh adalah melalui penyuntikan larutan kalsium glukonat 20% secara intravenus atau intrasubcutan sebanyak 250-500 ml. Sesudah disuntik sapi tidak boleh diperah sekurang-kurangnya 12 jam.

Disarankan kepada peternak sapi perah apabila sapinya menunjukkan gejala-gejala milk fever, secepatnya menghubungi dokter hewan terdekat. ncegahan penyakit milk fever dapat dilakukan melalui pemberian pakan yang mengandung kalsium dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan sapi perah. Pemberian pakan yang mengadung kadar kalsium berlebihan tidak direkomendasikan karena akan mempengaruhi metabolisme mineral lainnya. Pemberian hijauan, terutama leguminosa dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium yang baik. Dianjurkan sapi yang produksinya tinggi, hijauan yang diberikan berupa leguminosa sebanyak 25-50% jumlah hijauan yang diberikan. Suplementasi kalsium, fosfor dan magnesium dalam pakan sapi perah sebelum beranak sering dilakukan untuk mencegah terjadinya milk fever.

2. Mastitis
Mastitis adalah penyakit peradangan kelenjar susu dan penyebab umumnya adalah bakteri yang masuk melalui saluran susu dan kemudian menetap di ambing. Masuknya bakteri seringkali menyebabkan terjadinya luka dan peradangan disekitar ujung puting. Penyakit mastitis langsung menurunkan produksi susu maupun komposisi susu.
Pencegahan merupakan kunci dari perogram pengawasan mastitis. Penularan bakteri ke sapi yang sehat seringkali terjadi melalui tangan pemerah yang tidak bersih atau handuk untuk mencuci ambing. Sebelum memerah peternak harus mencuci tangannya dengan sabun desinfektan. Sapi yang kena mastitis harus diperah paling akhir. Setelah selesai pemerahan, puting harus dicuci dengan memakai satu handuk dalam larutan sanitasi dan dikeringkan secara seksama. Selanjutnya puting dicelupkan kedalam larutan pencelup puting, yaitu chlorhexidin (0,5%), iodine (0,5-1%) dan hypochloride (4%).

Prosedur yang sehat ini dapat mengurangi 50% atau lebih kemungkinan timbulnya infeksi baru yang disebabkan oleh streptococci dan streptococci aureus. Tindakan pencegahan harus digabungkan dengan pengobatan terhadap infeksi yang ada.

Dari suatu penyelidikan diketahui bahwa penggabungan antara pencegahan dan pengobatan infeksi mengurangi timbulnya mastitis dari 40% menjadi 11%. Hal ini merupakan penurunan yang menakjubkan dari timbulnya mastitis dan tentu saja memerlukan usaha-usaha untuk mencapainya.

3. Penyakit lain
Penyakit lain yang secara tidak langsung menurunkan jumlah produksi susu adalah penyakit organ reproduksi. Penyakit pada organ reproduksi menyebabkan kegagalan kebuntingan, akibatnya memperpanjang jarak kelahiran (calving interval)

Obat-obatan

Obat-obatan yang dapat menstimulir/meningkatkan produksi susu banyak jenisnya, tetapi masih dipertanyakan sejauh mana obat-obatan tersebut dapat digunakan secara praktis dan ekonomis serta pengaruh penggunaan jangka panjang. Salah satu obat yang digunakan untuk meningkatkan produksi susu adalah thyroprotein atau iodinated-casein mempunyai pengaruh seperti halnya pada thyroxine, mempertinggi sekresi hormon prolaktin.

Sapi perah yang tinggi produksi susunya, umumnya memiliki kelenjar thyroidea yang sangat aktif menghasilkan thyroxine. Jika sapi yang produksinya turun dan diberi hormon thyroxine (obat thyranon per-os atau intra musculair) produksi susu dapat meningkat. Pemberian thyroprotein (obat campuran casein dan yodium), juga disebut "thyro-active lactation stimulant" untuk sapi mempunyai pengaruh seperti pemberian thyroxine. Sebaiknya pemberian thyroprotein dilakukan sekitar 40 hari sesudah partus sewaktu produksi mulai turun sebanyak 15 gram tiap hari biasanya dalam waktu lebih kurang 10 hari produksi sudah dapat naik lagi. Kenaikan produksi dapat mencapai sekitar 5 sampai 20 persen dan dapat berlangsung sampai tiga bulan. Pemberian hormon thyroxine maupun thyroprotein menyebabkan pernapasan menjadi terlalu cepat, karena itu di daerah yang panas dianjurkan jangan diberikan thyroxine atau thyroprotein pada sapi perah.