4 Cara Mengawetkan Kulit

Pengawetan kulit dilakukan untuk mencegah pertumbuhan dan berkembangbiaknya mikrobia dalam kulit serta mencegah aktivitas enzim dalam kulit itu sendiri. Pengerjaan pengawetan yang paling ideal adalah setelah kulit lepas dari tubuh, pengawetannya segera diproses kalau tidak selama waktu penundaan pengerjaan akan terjadi denaturasi maupun degradasi dari zat-zat kimia dalam kulit. Kulit yang baru dilepas dari hewan, perlu dibersihkan dari kelebihan daging dan lemak yang masih melekat pada bagian subkutis. Kulit dibersihkan dari sisa-sisa daging dan lemak yang masih tertinggal melekat dengan menggunakan pisau daring yang tajam, ini dilakukan dengan hati-hati jangan sampai merusak kulit.

Lemak yang tertinggal didalam kulit dan tidak dibersihkan akan menyebabkan kerusakan kulit, karena selama pengeringan kulit tersebut lemak yang tertinggal pada kulit akan mencair dan diabsorbsi kulit sehingga sukar dihilangkan pada proses pengolahan kulit. Kotoran-kotoran yang melekat pada kulit dibersihkan dengan mencucinya dengan air yang bersih, khusus untuk kulit kambing dan domba tidak perlu dicuci karena akan menambah kelembaban diantara bulu, wool dan korium sendiri yang akan menyebabkan lemahnya serabut-serabut kulit apabila kulit dipanaskan atau dikeringkan pada temperatur tinggi.


Metode pengawetan untuk kulit ternak terdiri dari : 
  1. pengawetan secara dikeringkan (air dried). Kulit yang baru dilepas dari tubuh ternak dibersihkan dari sisa daging dan lemak lalu dicuci bersih. Kemudian kulit-kulit disampirkan untuk pengetusan, kurang lebih 30 menit atau sampai air tidak terlalu banyak. Sesudah itu dilakukan pementangan dan penjemuran agar air dapat menguap dengan teratur disemua bagian kulit
  2. pengawetan kulit secara digaram basah (brining). Kulit yang telah dibersihkan dari sisa daging dan kotoran dimasukkan kedalam larutan garam jenuh (konsentrasi 10%) selama 24 jam. Kemudian direntang dilantai dan digaram dengan berat garam 30% dari berat kulit basah. Setelah 24 jam dapat ditaburi garam lagi sebanyak 20%. Lalu didiamkan beberapa hari hingga air bisa mengalir keluar. Setelah itu baru dilipat dengan bagian daging berada didalamnya. 
  3. pengawetan secara digaram dan dikeringkan. Pengawetan ini menggunakan garam 40 sampai 50% untuk kulit kambing atau pedet dan 30 sampai 40% dari berat kulit segar bersih dari kulit hewan besar. Pemberian garam sebelum dikeringkan dapat dilakukan 1 sampai 2 hari untuk kulit hewan kecil dan 3 sampai 4 hari untuk kulit hewan besar. 
  4. pengawetan secara diasam atau dipikel. Pengawetan kulit dengan mempikel ini dikerjakan untik kulit-kulit yang sudah dihilangkan bulunya. Kepekatan cairan pikel ini diantara 10 sampai 20o Be, sedang pH cairan pikel dibuat kurang lebih 2,5. Sesudah kulit diputar dalam drum atau diremas-remas dengan cairan pikel selama 2 jam lalu diperas. Kemudian kulit dilipat memanjang garis punggung dan dimasukkan dalam tong kayu yang dasarnya telah diberi lapisan garam dapur 
Ke 4 cara pengawetan kulit diatas sudah kami tulis dan jabarkan secara detail. Anda dapat melihat pada artikel rekomendasi yang ada dibawah postingan artikel ini.