Cara Mengawetkan Kulit Dengan Metode Garam Kering dan Basah

Pengawetan kulit mentah bertujuan untuk melindungi kulit terhadap serangan-serangan bakteri sampai kulit tersebut siap diolah. Serangan bakteri segera dimulai sesudah hewan mati, hal ini berarti bahwa proses pengawetan harus segera dilakukan setelah panas hewan tersebut tidak berpengaruh pada kulit mentahnya lagi. Setiap penundaan akan mengakibatkan kerusakan karena serangan bakteri yang langsung menurunkan efisiensi proses pengawetan.

Pengawetan Kulit dengan Garam Kering

Cara pengawetan ada beberapa macam, salah satunya adalah dengan metode garam kering. Sebelum diawetkan kulit harus bersih dari kotoran-kotoran, kelebihan daging dan lemak. Kombinasi penggaraman dan pengeringan dilakukan dengan merendam kulit dalam larutan garam jenuh selama 24 jam kemudian dikeringkan dengan sinar matahari sampai kering.

Jenis garam yang digunakan adalah NaCl, selain harganya lebih murah NaCl bersifat higroskopis sehingga mampu mereduksi kadar air kulit. Bila penggunaan garam kristal terlalu banyak akan timbul defek-defek pada kulit. Proses pengeringan mungkin merupakan proses pengawetan yang efektif terhadap kerusakan karena mampu menghindari kulit dari kerusakan-kerusakan dan perubahan-perubahan yang tidak bisa dikembalikan serangan-serangan bakteri bisa dihindarkan dengan mudah apabila kadar airnya bisa diturunkan atau dihilangkan sama sekali. Makin rendah kadar airnya makin rendah juga serangan-serangan bakteri.

Keuntungan pengawetan kulit dengan cara garam kering adalah
  • Selama waktu pengeringan kulit tidak lekas busuk meskipun pengeringannya memerlukan waktu yang agak lama. 
  • Kualitas kulit lebih baik daripada yang hanya dikeringkan saja karena serat-serat kulit tidak melekat satu sama lain. 
  • Kulit baik untuk disamak sebab dalam pembasahan kembali tidak membutuhkan waktu yang lama dan berat sesudah pembasahan kembali dan bisa seperti waktu kulit masih segar.

Kerugian metode pengawetan kulit dengan garam kering adalah biaya pengawetan menjadi lebih mahal dibandingkan dengan pengawetan kering biasa, karena jumlah pemakaian garam sangat banyak.


Cara Pengawetan dengan garam kering

Kulit segar yang sudah ditimbang dibersihkan dari kotoran dan sisa daging serta lemak yang menempel. Kemudian kulit dicuci sampai bersih dan direndam dalam larutan garam jenuh selama 24 jam. Kulit direntangkan pada bidang miring dengan bagian dalam berada di atas dan ditaburi garam kurang lebih 30% dari berat kulit segar. Setelah itu kulit dipentangkan pada bingkai kayu untuk dijemur dengan sinar matahari sampai kering.

Pengawetan Kulit Dengan Garam Basah

Kulit hewan mentah tidak adapat diserahkan dalam keadaan segar kepada tukang samak, diperlukan beberapa cara pengawatan umum sebelum diserahkan. Salah satu cara pengawetan kulit yaitu dengan menggunakan metoide garam basah.

Metode pengawetan dengan penggaraman basah dilakukan dengan cara menumpuk lapisan-lapisan garam dan kulit berganti-ganti, biasanya pada sebuah panggung berbilah-bilah, satu tumpukan dibangun sampai ketinggian 1,2 m sampai 1,5 m. setelah 10 hari tumpukan kulit tersebut harus dibongkar secara seksama dan dibuat tumpukan baru dimana kulit yang paling atas dari tumpukan semula menjadi dasar dari tumpukan yang baru. Jika panggung berbilah tidak dipakai dan air garam tertahan, maka ada bahaya pembusukan yang pasti.


pengawetan secara awet garam dilakukan selama kurang lebih 3 minggu. Garam dalam pengawetan berfungsi untuk mengambil air dari kulit sehingga kadar air kulit dari 65% turun menjadi sekitar 30%. Jumlah garam yang banyak menyebabkan plasmolisis sel-sel mikroorganisme. Jenis garam yang digunakan pada awet garam adalah NaCl, karena mudah diperoleh dan harganya lebih murah. NaCl bersifat higroskopis sehingga mampu mereduksi kadar air kulit. Penggunaan garam pada pengawatan juga dapat menimbulkan defek-defek jika kristal garam yang diberikan terlalu besar.

Kulit awet garam akan lebih mudah mengalami rehidrasi karena pengendapan NaCl diantara serat protein. Berbeda dengan kulit awet kering, NaCl pada kulit awet garam dapat mengurangi daya rekat antara serat-serat protein pada kulit. Penggaraman basah diterapkan hanya dimana produksi besar dan sebuah bangunan (tempat proses pengawetan dilakukan) dengan temperature tidak melebihi 15,6 0C sepanjang tahun dapat dibangun. Bila kelembaban nisbi melebihi 90 % atau temperatur mrncapai 30 0C sampai 42,2 0C maka kulit jangat yaitu bahan yang membentuk kulit menjadi membusuk. 

Cara Pengawetan dengan garam basah

Kulit segar terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran yang menempel dengan air bersih. Seletah itu kulit dibersihkan dari sisa daging dan lemak yang menempel dengan menggunakan pisau. Kemudian kulit dicuci lagi dan direndam dalam larutan garam jenuh selama 24 jam (semalam). Kulit kemudian direntangkan pada bidang miring dengan bagian dalam berada diatas, dan ditaburi dengan garam pasirkurang lebih 30% dari berat kulit basah. Kemudian kulit dilipat dan disimpan selama 24 jam. Kulit ditaburi garam lagi sebanyak 30% dari berat kulit basah, dan disimpan selama 2 sampai 28 hari.