Fungsi Tractus Digestivus pada Ruminansia

Fungsi utama dari tractus digestivus adalah mengubah hijauan dan pakan lain yang dikonsumsi menjadi komponen kimiawi yang dapat diabsorbsi kedalam peredaran darah untuk digunakan sebagai zat gizi untuk jaringan tubuh sapi. Ini juga termasuk pengertian untuk mengeluarkan hasil sisa metabolisme jaringan dan sisa pakan yang tidak tercerna. Dalam menyelesaikan fungsi ini terlibat berbagai proses termasuk mastikasi, salivasi, digesti, dan absorbsi.


Mastikasi

Mastikasi awal (pengunyahan) pakan oleh sapi hanya sepintas saja, dimana pakan hanya dikunyah sebentar untuk mencampur dengan saliva dan membentuk bolus untuk ditelan. Mastikasi yang lengkap terjadi pada waktu remastikasi waktu sapi istirahat. Mastikasi sangat penting artinya untuk memperluas permukaan pakan dari pakan kasar untuk kerja enzim-enzim pencernaan dari mikroorganisme rumen, getah pencernaan dalam abomasum dan intestinum. Telah diperkirakan bahwa sapi menggerakkan rahangnya 42.000 kali sehari untuk mastikasi dan remastikasi apabila sapi diberi pakan berupa campuran silage, hay dan biji-bijian.

Salivasi

Sejumlah besar saliva dihasilkan oleh sapi, khususnya apabila sapi diberi pakan sejumlah besar hijauan kering. Dilaporkan oleh Stallcup (1971), sapi yang merumput di pangonan mensekresikan saliva 47,0 galon per hari; 39,3 galon bila diberi pakan hay; 28,5 galon bila diberi pakan konsentrat dan hay; 32,5 galon bila diberi pakan konsentrat kubus dan hay; 29,0 galon bila diberi pakan silage.
Saliva mempunyai tekanan permukaan (surface tension) yang rendah, sehingga membantu mencegah terbentuknya buih dalam rumen. Disamping itu saliva juga mempunyai dua peran lain yaitu untuk membasahi pakan sebelum ditelan, sehingga dalam rumen memudahkan mikroorganisme rumen mencerna pakan tersebut, dan juga berfungsi sebagai buffer dalam rumen karena saliva mengandung banyak bikarbonat dan phosphat.

Saliva bersifat alkalis, pada sapi mempunyai pH 8,2.  Asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikrobia dalam rumen dinetralkan oleh saliva. Ini menahan pH dalam rumen antara 6,5 sampai 7,5 dan memberikan suasana yang baik untuk perkembang-biakan dan aktivitas mikrobia. Hal ini juga menekan terjadinya buih dari isi rumen yang dapat menyebabkan terjadinya bloat (kembung).

Digesti Mikrobial dalam Reticulo-rumen

Setelah pakan masuk dalam reticulo-rumen, tercampur dengan cairan rumen yang mengandung jutaan mikro-organisme baik bakteri maupun protozoa. Pakan akan tinggal di dalam reticulo-rumen dalam beberapa hari. Selama itu pakan tersebut dicerna oleh sejumlah besar mikro-organisme rumen yang memegang peranan penting dalam pencernaan pakan. Bakteria adalah jenis tumbuhan bersel satu. Protozoa merupakan hewan bersel satu yang juga memakan bakteria dan ingesta / pakan sapi. Mikro-organisme ini memecah karbohidrat kompleks seperti selulosa dan hemiselulosa, dengan proses fermentasi menjadi asam-asam lemak rantai pendek melalui aktivitas enzimnya. Asam-asam lemak tersebut kemudian diabsorbsi langsung dari rumen dan reticulum kedalam aliran darah sapi untuk digunakan sebagai sumber energi dan sebagai sumber atom C (karbon) untuk sintesis bermacam-macam komponen penting, termasuk lemak susu.

Hal yang sama, juga protein dalam pakan akan dipecah menjadi peptida, asam-asam amino, amonia, dan amine. Mikro-organisme menggunakan substansi ini untuk memenuhi kebutuhan perkembangan selnya sendiri. Selanjutnya mikro-organisme terbawa aliran pakan menuju intestinum dan tercerna, dan digunakan sebagai sumber protein bagi sapi perah. Karena itu tidak perlu dirisaukan apa sumber protein pakan sapi, karena sebagian besar akan diubah menjadi protein bakterial dan protozoal sebelum benar-benar akan digunakan oleh sapi. Ini juga merupakan alasan bahwa urea (NPN) dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein oleh ruminansia, yang pada ternak monogastrik tidak bermanfaat karena tidak mempunyai cukup banyak mikrobia yang mampu mensintesis protein. Beberapa bagian pakan yang belum terfermentasi yang masuk dalam reticulo-rumen, melalui gerakan yang dihasilkan oleh tulang iga, diaphragma, rumen dan reticulum, pakan tersebut terdorong kembali menuju oesophagus dalam bentuk bolus, dengan tekanan terbalik menuju kedalam mulut. Carian yang terbawa segera terperas dan ditelan kembali, sedangkan sisa bolus yang disebut cud dikunyah kembali menjadi potongan yang lebih halus untuk memungkinkan proses fermentasi dapat berlangsung, kemudian pakan tersebut ditelan kembali. Proses ini yang berulang disebut proses ruminasi, yang diperkirakan menghabiskan waktu sepertiga lama hidup sapi.

Rumen dan reticulum mempunyai kapasitas penampungan yang sangat besar, sekitar 50 galon, dan dengan adanya proses ruminasi memungkinkan sapi untuk mengkonsumsi jumlah pakan yang banyak dalam waktu yang singkat. Pada waktu makan sapi mengunyah pakannya hanya untuk membasahi dengan ludah dan memungkinkan untuk ditelan melalui oesophagus. Baru pada waktu berikutnya sapi melakukan regur-gitasi pakan yang membutuhkan pengunyahan lebih lanjut. Secara alami hal ini mungkin sangat penting untuk mempertahankan hidupnya bagi spesies liar untuk dapat makan banyak secepatnya di padang rumput terbuka, kemudian segera kembali bersembunyi ditempat yang lebih aman.