Manajemen Perkawinan Sapi Dara

Walaupun sapi perah dara tumbuh dan nilainya bertambah setiap hari, mereka tidak menghasilkan pendapatan sampai mereka beranak, atau kecuali mereka dijual. Ini maksudnya bahwa sapi perah dara adalah beban pembiayaan dalam hampir semua peternakan sapi perah. Untuk menekan pembiayaan usaha peternakan sapi perah serendah mungkin, peternak sapi perah harus mengusahakan sapi dara tersebut berproduksi seawal mungkin.

Heifer ternak sapi perah (dara umur diatas 1 tahun belum beranak) dapat dikawinkan apabila mereka fisiknya cukup besar untuk dapat melahirkan pedet tanpa kesulitan. Apabila heifer diberi pakan dengan baik, mereka akan dapat mencapai berat badan yang ideal untuk dikawinkan pada umur lima belas bulan. Apabila seekor heifer dikawinkan pada umur lima belas bulan dia akan beranak pertama pada umur sekitar dua tahun. Beberapa peternak mengawinkan heifernya pada umur dua puluh enam sampai dua puluh delapan bulan, sehingga heifer ini akan beranak pada umur sekitar tiga tahun. Peternak sapi perah yang mengawinkan heifernya pada umur 26 – 28 bulan lebih banyak mengeluarkan biaya sebelum heifer tersebut  berproduksi. Heifer yang beranak pada umur dua tahun sudah menghasilkan 2.500 – 5.000  kg susu sebelum partnernya yang dikawinkan pada umur dua tahun beranak. 

Perkawinan pertama dilakukan pada umur 15 bulan hanya baik pada sapi dara yang cukup besar badannya dan mendapatkan pakan ransum yang baik. Heifer yang dikawinkan pertama apabila badannya terlalu kecil, akan mendatangkan kesulitan pada waktu beranak. Tubuhnya yang masih kecil juga merupakan pembatas produksi susunya. Heifer yang lebih besar akan menghasilkan lebih baik asalkan bukan kegemukan. Heifer yang kegemukan tidak akan memberikan performans produksi yang baik  pada awal produksinya.

Lama kebuntingan normal (gestation period) pada sapi perah sekitar 283 hari. Peternak kadangkala menggunakan tabel kebuntingan (tabel 14), untuk memperkirakan kapan ternak tersebut akan beranak. Cara mudah yang lain untuk memperkirakan tanggal beranak adalah menambahkan 9 bulan dan 10 hari dari tanggal dikawinkan. Sebagai contoh seekor heifer dikawinkan tanggal 3 Desember, akan beranak pada tanggal 13 September. Dengan demikian peternak dapat merencanakan kapan sapi-sapinya diharapkan beranak, hal ini dapat dihubungkan dengan ketersediaan pakan, mungkin disesuaikan dengan perhitungan musim yang terjadi.

Pemberian Pakan Pada  Awal Perkawinan

Apabila seekor heifer dikawinkan pada umur lima belas bulan, pemberian pakan yang tepat sangat penting. Heifer yang diberi pakan kurang akan terhambat pertumbuhannya, bulu-bulunya kasar, dan saat beranak lebih banyak mendapat masalah. Heifer yang kurang pakan dapat terhambat estrusnya dan tidak terjadi heat. (periode heat adalah  waktu dalam siklus reproduksi heifer, dimana heifer tersebut siap menerima pejantan untuk mengawininya.). Heifer yang normal biasanya menunjukkan tanda-tanda heat pertamanya antara umur 9 – 12 bulan.  Apabila seekor heifer tidak menunjukkan tanda-tanda heat sampai umur 12 bulan, peternak harus menduga adanya gangguan reproduksi atau masalah dalam pemberian pakan.

Apabila heifer bangsa sapi besar (Holstein, Brown Swiss, dan Milking Shorthorn) dikawinkan untuk dapat beranak umur 2 tahun, maka harus tumbuh dengan rata-rata pertambahan berat badan (ADG = average dailly gain) sekitar 0,75 kg per hari. Bangsa sapi kecil ADG-nya harus mencapai rata-rata 0,6 kg per hari. Pada sapi besar hal tersebut akan menghasilkan berat dewasa mencapai 550 kg  sampai 600 kg. Untuk mencapai prestasi tersebut ternak harus diberi pakan kasar (forage/ hijauan) dan biji-bijian dengan kualitas tinggi. Apabila seorang peternak menggunakan hijauan berkualitas kurang baik, maka harus mengimbangi dengan pemberian pakan konsentrat (grain) lebih banyak.
Heifer tidak boleh diberi pakan terlalu banyak yang menyebabkan kegemukan. Tujuan program pemberian pakan berimbang adalah menuju pertumbuhan heifer, bukan penggemukan. Penggemukan adalah merugikan (percuma / tidak menguntungkan) dan biaya mahal. Akibat dari kegemukan, heifer biasanya tidak gampang dikawinkan dan mungkin menimbun lemak dalam ambingnya. Ternak dengan lemak dalam ambingnya tidak memiliki jaringan sekretorik cukup banyak sebagaimana seharusnya, sehingga menyebabkan produksi susunya rendah.

Pencegahan Parasit

Untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal pada heifer, gangguan parasit dan insekta harus dicegah.  Ternak yang memiliki bulu yang kasar dan tidak tumbuh dengan baik kemungkinan ada infeksi parasit.  Kutu dan  caplak merupakan parasit yang umum mengganggu ternak yang dikandangkan. Lalat dan nyamuk  dapat menghambat pertumbuhan. Cacing lambung dan cacing paru-paru merupakan parasit di bagian dalam tubuh sapi. Sedikit pembiayaan untuk program pengobatan cacing dapat menyelamatkan anggaran pakan dan pekerja, dan meningkatkan produksi susu. Metode yang paling murah untuk pencegahan terhadap bahaya insekta dan parasit lain adalah dengan sanitasi dan perawatan ternak yang baik.

Pendeteksian Estrus (Heat) pada Heifer

Pendeteksian heat pada heifer merupakan satu problema tersendiri dalam peternakan. Masalahnya adalah bahwa pada heifer sering menunjukkan periode estrus / heat lebih pendek dibandingkan sapi dewasa (induk), dan menunjukkan tanda-tanda heat yang tidak mudah diamati.
Peternak harus menentukan waktu yang khusus setiap hari untuk mengamati heifer yang heat. Pengamatan sekali sehari biasanya tidak  cukup baik. Pengamatan heat sebaiknya jangan dilakukan selagi ternak makan, karena  saat  itu mereka biasanya lebih tertarik perhatiannya pada makan dan kurang menunjukkan tanda-tanda estrus. Untuk meningkatkan deteksi estrus, peternak sebaiknya membuat sapi aktif. Kadang-kadang dengan memasukkan ternak baru untuk meningkatkan aktifitas heifer. 

Beberapa tanda-tanda periode estrus pada heifer, antara lain heifer tampak lebih gairah, lebih aktif, mendekatkan kepala pada sesama heifer, tertarik pada pejantan, dan menaiki heifer yang lain. Apabila heifer tetap berdiri dan diam selagi dinaiki oleh pejantan atau sapi betina lain, dapat dipastikan heifer tersebut sedang dalam periode estrus.
Heifer-heifer harus sudah dimasukkan dalam catatan perkawinan (breeding record). Sekali heifer terlihat dalam periode estrus, periode estrus berikutnya akan terjadi sekitar duapuluh satu hari kemudian. Bila hal ini dimasukkan dalam catatan, akan memudahkan dalam menentukan kapan periode estrus berikutnya akan terjadi.

Pengaturan  Estrus

Penggunaan obat-obatan untuk mengatur periode estrus sapi telah dilakukan, dan akan menjadi perhatian bagi beberapa peternak. Obat-obatan yang digunakan merupa preparat hormon. Pengaruh obat tersebut menyebabkan seekor ternak atau kelompok ternak menjadi estrus dalam beberapa hari. Idealnya ini memungkinkan peternak sapi perah untuk mengawinkan semua heifernya dalam beberapa hari, sehingga peternak tidak perlu melakukan pemeriksaan estrus setelah itu. Proses perkawinan ini memudahkan di hari kemudian, karena semua heifer akan beranak hampir bersamaan dalam kisaran waktu sekitar satu sampai dua minggu.

Pada peternakan yang menggunakan artificial insemination (AI), pengamatan estrus sangat penting, dibanding peternakan yang masih menggunakan pejantan. Salah satu kelemahan penggunaan pejantan (kawin alami) adalah apabila dikehendaki perkawinan banyak sapi dalam waktu yang berdekatan, akan menyebabkan pejantan kelelahan (kelebihan penggunaan), dan dapat menyebabkan beberapa heifer tidak dapat dikawini.

Hormon-hormon diberikan dalam dua cara : dengan diberikan bersama pakan atau disuntikkan (diijeksi). Metode dengan pakan merupakan metode yang pertama dikenalkan pada peternak. Obat-obatan tersebut diberikan ternak selama periode 18 hari. Selama ini obat tersebut mencegah sapi mengalami estrus. Setelah 18 hari obat dihentikan, menyebabkan heifer mengalami estrus dalam waktu 1 sampai 5 hari. Metode injeksi termasuk penyuntikan hormon yang menyebabkan heifer menjadi estrus dalam beberapa hari.

Pengaturan estrus mempunyai kelemahan lain. Metode yang digunakan cukup mahal dan beberapa kali tidak memberikan hasil yang diharapkan. Metode yang baru digunakan Prostalglandine (PGF 2α).

Heifer  Steril

Satu diantara sepuluh heifer sapi perah memiliki saluran reproduksi yang abnormal. Abnormalitas ini dapat menyebabkan infertilitas temporer atau sterilitas permanen. Ternak yang infertil masih dapat dikawinkan, tetapi mempunyai beberapa masalah yang mempengaruhi perkawinan. Ternak yang steril mempunyai masalah dalam saluran reproduksinya yang menyebabkan tidak mampu beranak. Bila memelihara heifer yang steril akan memakan biaya yang mahal bila dipelihara sampai umur 15 sampai 20 bulan, dan ternyata tidak dapat beranak. 

Untuk mendeteksi ternak steril atau infertil sejak awal, peternak harus mempunyai catatan yang baik, pedet harus dimasukkan dalam catatan breeding ketika umur 9 – 10 bulan. Setelah itu ternak tersebut harus diperiksa / diamati dengan cermat khusus untuk periode estrusnya. Semua informasi reproduksi kemudian dicatat dalam catatan breeding, termasuk tanggal kelahiran heifer tersebut. Heifer yang tidak menunjukkan tanda-tanda estrus setelah umur 12 bulan harus  dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan.

Freemartin

Pedet yang dilahirkan oleh seekor sapi yang beranak kembar dengan jenis kelamin yang berlainan disebut freemartin. Sekitar 90 % freemartin adalah steril. Ini disebabkan karena selama kebuntingan, sistem hormon pedet jantan mengungguli sistem hormon betina. Bila ini terjadi, saluran reproduksi pedet betina tidak berkembang secara lengkap. Biasanya freemartin dijual saat pedet.

Masalah Saat  Beranak

Heifer dapat diduga akan mempunyai lebih banyak masalah saat beranak dibandingkan sapi dewasa. Masalah beranak dapat diminimalisir, bila heifer diberi pakan baik sehingga ternak cukup besar ketika saatnya beranak.

Walaupun heifer lebih banyak mempengaruhi ukuran pedet, catatan dari pejantannya harus juga diperhatikan. Pejantan yang akan digunakan mengawini heifer harus dipilih yang akan menghasilkan pedet yang fisiknya kecil. Peternak memperhatikan heifernya selama kebuntingan dan mempunyai catatan breedingnya, sebaiknya menunggui saat heifernya beranak. Bila heifer menemui kesulitan beranak,  peternak dapat segera memberi bantuan. Peternak harus ingat bahwa proses beranak heifer memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan sapi dewasa.

Kawin Alami Atau Inseminasi Buatan ?

Peternak harus mengambil keputusan sendiri untuk  mengawinkan heifernya dengan kawin alam atau inseminasi buatan. Masing-masing metode mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pada kawin alam, ada kemungkinan karena badannya yang besar dan berat akan merusak badan heifer yang kecil. Juga memelihara pejantan membutuhkan manajemen tambahan, biaya pakan, dan kandang. Pilihan pejantan jauh lebih sedikit  pada kawin alami, dibandingkan pilihan semen untuk inseminasi buatan.
AI mengharuskan pengamatan estrus pada heifer, yang tidak selalu mudah dilakukan. Juga heifer harus ditangkap dan ditempatkan pada tempat untuk  melakukan AI.