Manajemen Perkawinan Sapi Dewasa

Seekor sapi betina untuk dapat beranak, harus dikawinkan pada waktu dalam periode estrus, secara normal hanya saat itu sapi tersebut dapat menerima pejantan untuk mengawininya. Periode estrus terjadi pada perkiraan waktu yang bersamaan dimana sebutir ovum dilepas dari ovarium kedalam saluran reproduksi. Bila pejantan menempatkan sperma dalam saluran reproduksi sapi betina selama periode estrus, sangat besar kemungkinannya sapi akan menjadi bunting.

Sapi betina dewasa yang normal yang belum dikawinkan akan mempunyai periode estrus setiap 18 – 24 hari.  Peternak biasanya menggunakan rata-rata 21 hari utnuk memperkirakan kapan periode estrus berikutnya akan terjadi. Sistem hormonal sapi mengatur periode estrus dan menyebabkan sapi siap untuk dikawini dan bunting. Hormon reproduksi dilepas dari kelenjar pituitaria, dekat otak, dan dari ovarium sapi betina. Karena semua kejadian dalam proses reproduksi terulang-ulang terus, maka dikatakan sapi  mempunyai siklus estrus. Sepanjang  tidak dikawinkan, sapi akan selalu menunjukkan periode estrus setiap 21 hari. Apabila dikawinkan dan menjadi bunting, sapi tidak lagi menunjukkan estrus berikunya sampai dia beranak.


Siklus   Estrus

Siklus estrus melibatkan rantai kejadian yang sangat kompleks. Memahami kejadian-kejadian tersebut, dapat membantu peternak memahami masalah reproduksi yang suatu saat terjadi. Diskripsi berikut ini merupakan suatu penyederhanaan dari siklus estrus. Dimulai dari periode estrus.
  1. Sapi mulai persiapan estrus (heat). Periode ini berakhir sekitar 6 – 8 jam. Selama ini sapi selalu aktif dan sering tampak mengendus sapi lain dan menaikinya. Namun demikian sapi tersebut belum mau dinaiki pejantan untuk dikawini.
  2. Sapi dalam periode estrus (standing heat). Periode ini berlangsung sekitar 18 jam. Ini hanya merupakan periode sapi akan tetap diam bila dinaiki pejantan atau sapi betina yang lain. Ini periode yang paling tampak jelas dan satu-satunya periode dimana sapi betina paling aktif dalam atraksinya untuk dikawini. Waktu paling baik untuk mengawinkan sapi adalah akhir dari standing heat (periode estrus). Bila dikawinkan pada waktu tersebut kemungkinan sapi tersebut akan bunting sangat besar.
  3. Sapi sedang keluar dari heat (estrus). Periode ini berlangsung sekitar 10 – 12 jam.  Ini adalah satu periode yang singkat dalam siklus reproduksi ketika aliran hormon yang menyebabkan periode heat mengalami penurunan. Peternak sapi perah dapat bingung periode ini dengan awal periode heat. Ini disebabkan sapi mulai aktif kembali dan tampak mengendus sapi lain dan menaikinya tetapi tidak mau diam bila dinaiki pejantan atau induk yang lain. Normalnya ovum dilepas dari ovarium mendekati akhir periode ini. Bila karena beberapa alasan ovum tidak dilepas munculah kondisi abnormal dan sapi tetap dalam keadaan heat. Kondisi seekor sapi yang demikian disebut  ”a chronic buller”. Sapi yang demikian membutuhkan bantuan dokter hewan untuk menghentikan periode estrus dan melanjutkan siklus estrus normal.
  4. Hormon-hormon ovarium mengontrol siklus reproduksi. Periode ini berlangsung selama 2 – 3 hari. Selama periode ini hormon-hormon dari ovarium mengontrol / mengatur proses reproduksi, bila sapi dikawinkan dan menjadi bunting hormon-hormon tersebut berhenti mengontrol. Dalam kasus ini sapi tidak lagi mengalami siklus estrus reguler sampai beranak. Bila sapi tidak dikawinkan akan mulai  periode berikutnya dalam siklus.
  5. Hormon-hormon ovarium kehilangan kontrol pada saluran reproduksi.  Pada tahapan ini hormon dari kelenjar pituitaria mengambil alih mengatur siklus estrus dan mulai persiapan periode estrus yang lain. Selama periode ini kadang-kadang ada sedikit darah yang keluar dari saluran reproduksi. Kejadian ini adalah normal. Darah datang dari lapisan uterus yang disiapkan untuk fertilisasi telur pada awal tahapan. Karena tidak  ada telur yang dibuahi tambahan jaringan tersebut terlepas. Peternak yang melihat adanya bekas darah yang menempel di ekor sapi dapat memperkirakan sapi tersebut sudah mengalami standing heat 3 - 4 hari yang lalu. Bila terlihat adanya bekas darah ini, dapat dicatat dalam catatan breeding dan digunakan untuk memperkirakan heat berikutnya. Apabila karena beberapa alasan kelenjar pituitaria tidak mampu lagi mengontrol siklus estrus dari ovarium, akan terjadi kondisi abnormal. Bila ini terjadi, siklus estrus akan terhenti  pada tahap ini. Ini memungkinkan menimbulkan keraguan antara status ini dengan terjadinya kebuntingan. Sapi dengan kondisi seperti ini mungkin karena adanya cystic ovari (ada bisul /pembengkakan pada ovarium) dan disebutkan sebagai kejadian kebuntingan palsu.
  6. Saluran reproduksi disiapkan untuk periode estrus berikutnya. Aktifitas diatur oleh hormon-hormon dari kelenjar pituitaria. Pada tahapan ini, ovum yang lain diproduksi dalam ovarium untuk dilepaskan dalam periode estrus berikutnya. Ini adalah periode yang paling panjang dalam siklus estrus.
  7. Sapi mulai lagi persiapan menuju estrus. Waktu atau jarak antara saat ini dengan yang sebelumnya berkisar antara 18 – 24 hari.

Kapankah Seekor Sapi  Dalam Kondisi Heat (Estrus)?

Tanda-tanda yang sangat meyakinkan bahwa seekor sapi sedang heat, terjadi apabila sapi tersebut diam saja apabila dinaiki dan dikawini oleh seekor pejantan. Hal ini terjadi hanya selama periode standing heat. Sapi tersebut juga akan diam saja apabila diendus-endus pantatnya dan dinaiki oleh sapi betina lain, khususnya apabila dilingkungannya tidak ada pejantan. Berikut ini juga tanda-tanda estrus sapi dewasa :
  • Sapi sering menguak lebih dari biasanya dan tampak  menjadi gelisah.
  • Sapi berusaha menaiki sapi yang lain dan membiarkan / mau dinaiki sapi yang lain.
  • Vulvanya tampak merah dan sedikit membengkak.
  • Tampak mengeluarkan mucosa (lendir) dari vulvanya.
  • Bila sedang laktasi, sapi tersebut  tampak produksinya berkurang dibandingkan produksi normalnya.
  • Nafsu makan sapi tersebut menurun.

Masing-masing sapi mempunyai intensitas estrusnya berbeda. Beberapa sapi menunjukkan hanya gugup dan penurunan produksi susu, sedang yang lainnya jelas-jelas berusaha menaiki sapi-sapi yang lain. Peternak harus mengingat  kebiasaan heat masing-masing sapinya.  Cara terbaik mengingat tanda-tanda heat masing-masing sapinya, dengan menuliskan dalam catatan reproduksi. Hal ini khususnya sangat bermanfaat untuk  program perkawinannya.
Periode estrus dibagi dalam 4 katagori pengelompokan, ini dibuat berdasarkan intensitas (kejelasan) dan lamanya periode estrus.

  1. Panjang dan kuat. Enambelas sampai duapuluh jam dalam periode standing heat, dan mudah pendeteksiannya.
  2. Panjang dan lemah. Enambelas sampai duapuluh jam atau lebih dalam periode standing heat, tetapi sulit identifikasinya.
  3. Pendek dan kuat. Standing heat yang pendek tetapi pendeteksiannya mudah.
  4. Pendek dan lemah. Standing heat yang pendek, dan pendeteksiannya sulit.

Sapi dalam katagori pendek dan lemah adalah yang paling sulit untuk observasi estrusnya. Estrus harus diperiksa sedikitnya dua kali sehari agar sapi tersebut dapat dikawinkan dengan waktu yang tepat.

Apabila sapi tidak menunjukkan tanda-tanda heat atau selalu dalam keadan heat, dokter hewan harus memeriksa sapi tersebut.  Problema ini dimungkinkan karena terjadinya kerusakan/gangguan  pada ovarium. Bila sapi tidak dapat disembuhkan dengan baik, seharusnya segera dijual.
Satu diantara 20 ekor sapi induk menunjukkan tanda-tanda birahi walaupun sudah bunting. Ini diketahui sebagai heat palsu (false heat). Penting untuk mencatat semua tanggal heat palsu dalam catatan breeding. Inseminator harus mengetahui sapi-sapi yang mana telah menunjukkan heat palsu. Hal ini akan mengubah cara inseminator melakukan IB tidak seperti yang biasa dilakukan pada sapi normal. Apabila sapi dikawinkan kembali sedang sapi tersebut sedang dalam heat palsu, dan inseminator tidak mengetahui sejarahnya,  sumbat servix (srevical plug) dapat rusak  saat inseminasi (sumbat servix uteri menutup uterus untuk mencegah masuknya penyakit), bila sumbat tersebut terbuka maka dapat terjadi kejadian abortus.

Metode Deteksi Estrus

Peternak sapi perah harus mengamati dengan cermat tanda-tanda estrus sapi perah. Maksudnya harus meluangkan sejumlah waktu khusus tiap hari untuk mengontrol sapi-sapinya. Sebaiknya pemeriksaan estrus sapi tidak dikerjakan sebagai sampingan atau sambil mengerjakan pekerjaan lainnya. Sapi-sapi dengan tanda-tanda estrus lemah akan tidak terdeteksi bila peternak tidak mengamati dengan cermat. Bila perlu sapi dibuat berdiri dan bergerak untuk meningkatkan aktivitas reproduksinya. 

Peternak sapi perah dapat menggunakan berbagai macam alat untuk mendeteksi periode estrus. Salah satunya adalah ”heat detection pad”   yang berupa selembar kecil plastik yang akan ditempelkan dengan lem pada bagian belakang sapi betina dekat dengan pinggang, tabung putih yang berisi cat merah, yang apabila tertekan oleh sapi lain cat akan merembes keluar dan mewarnai bagian tubuh sapi petina tersebut. ”Heat detection pad”  tidak mendeteksi estrus, tetapi menunjukkan bahwa telah dinaiki oleh sapi lain, dan hal ini dapat diperkirakan sapi tersebut sedang estrus. 

Metode deteksi heat yang lain dengan menggunakan alat yang disebut ”Chin-ball marking” yang berupa seperti ujung ball-point besar yang ditempelkan pada halter yang dipasang pada sapi jantan yang sudah dikebiri, tetapi  pengebirian tidak menghilangkan aktifitas seksualnya, hanya sapi tersebut tidak dapat mengawini sapi betina (disebut a marker bull). Jadi prinsipnya metode ini mengandalkan insting alami sapi jantan yang akan menaiki betina yang sedang dalam kondisi standing heat atau estrus, tetapi tidak dapat mengawini sapi yang dinaikinya. 

Cara lain yang praktis dan berguna untuk mendeteksi periode estrus adalah dengan menggunakan satu set catatan breeding. Bila catatan tersebut lengkap sampai hari terakhir, dapat membantu masalah periode estrus berikutnya.

Waktu Untuk Pemeriksaan  Estrus

Dalam peternakan sapi perah harus dilakukan pemeriksaan estrus sedikitnya sekali setiap hari, tetapi idealnya dua kali. Periode jangka waktu dimana sapi akan diam saja apabila dikawini disebut ”standing heat”  normalnya berlangsung selama 18 jam. Namun demikian ini dapat berkisar antara 4 sampai 40 jam.

Pengamatan estrus sekali  dan  dua kali   per hari

Bila hanya sekali dilakukan pengamatan estrus sehari, sangat besar kemungkinan ada sapi yang estrus tetapi terlewatkan / tidak terdeteksi. Bila dilakukan dua kali peluang untuk terdeteksi jauh lebih besar. Ilustrasi diatas menunjukkan bagaimana peternak dapat kehilangan pengamatan periode estrus sapi yang telah mengalami periode estrus 20 jam, dapat meningkatkan peluang deteksi sapi yang estrus dengan dua kali pengamatan sehari.

Perkawinan  Setelah  Beranak

Perkawinan setelah beranak (post partum matting) yang paling awal harus ditentukan berdasarkan masing-masing individu. Rekomendasi yang paling aman untuk post partum matting adalah 60 – 90 hari setelah beranak, meskipun beberapa peternak mengawinkan sapinya lebih awal sekitar 40 hari setelah beranak. Perkawinan yang lebih awal ini, saluran reproduksi sapi harus benar-benar sudah sangat sehat. Bila ini mungkin dilakukan, perkawinan awal tersebut memiliki keunggulan mengurangi / memperpendek calving interval.

Beberapa kerugian mengawinkan lebih awal termasuk resiko yang tinggi atas kejadian abortus, peluang besar terjadinya sterilitas, meningkatkan kemungkinan terjadinya retentio placenta (placenta tidak dapat keluar setelah beranak), kemungkinan terjadinya penurunan jumlah produksi susu, dan juga menyebabkan penurunan conseption rate (kemungkinan terjadi kebuntingan). Kerugian apabila dilakukan perkawinan yang lebih lambat adalah sapi tersebut  tidak dapat beranak secara reguler dalam calving interval 12 bulan, ini berarti sapi tersebut menjadi kurang efisien.

Pada umumnya sapi yang normal akan mengalami periode estrus 20 – 60 hari setelah beranak. Apabila sapi tidak menunjukkan periode estrus 60 hari setelah beranak, harus dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan.

Hanya 75 % dari sapi-sapi yang ada di peternakan dapat diharapkan sudah mempunyai saluran reproduksi yang benar-benar sehat 60 hari setelah beranak. Beberapa sapi membutuhkan waktu sampai 120 hari untuk saluran reproduksinya kembali normal. Beberapa sapi mengalami perlukaan pada waktu beranak dan tidak dapat  beranak lagi. Sapi yang beranak twin (kembar dua), akan mengalami masalah perkawinan, menjadi lambat bunting.

Perkawinan Pada Akhir Periode Estrus

Mengetahui pada saat di  mana (kapan) waktu dalam siklus estrus yang terbaik untuk dikawinkan, sangat dibutuhkan pengertian beberapa fakta tersebut dibawah ini :
  1. pada umumnya sapi mengalami periode estrus (standing heat) selama  sekitar 18 jam.
  2. Ovum menjadi siap untuk dibuahi (difertilisasi) sekitar 10 – 12 jam setelah akhir  periode standing heat.
  3. Ovum akan tetap menjadi fertil selama sekitar 6 jam
  4. Sperma dapat bertahan hidup dalam saluran reproduksi betina selama sekitar 24 jam.
  5. Sperma harus dimasukkan dalam saluran reproduksi sapi betina sekitar 6 jam sebelum sperma tersebut dapat mencapai ovum untuk membuahi.

Ini menjadi penting untuk menempatkan semua kejadian tersebut dalam skala waktu untuk menentukan waktu terbaik mengawinkan seekor sapi. Apabila kehidupan ovum hanya 6 jam, sapi harus dikawinkan sebelum ovulasi supaya sperma dapat mencapai ovum selagi ovum tersebut masih fertil. Waktu terbaik untuk mengawinkan sapi betina sekitar 12 jam sebelum ovulasi. Ini berarti bahwa sapi betina harus dikawinkan kira-kira pada akhir periode estrus, atau saat periode estrus baru selesai. Inilah alasannya mengapa inseminator perlu mengetahui kapan seekor sapi mulai mengalami estrus (standing heat). Apabila sapi mulai standing heat pagi hari, inseminator sebaiknya mengawinkan sapinya pada sore hari. Apabila sapi mulai standing heat pada sore hari, harus dikawinkan keesokan hari berikutnya. Atau sekitar 18 jam setelah awal standing heat. Namun demikian banyak sapi yang tidak menunjukkan rata-rata 18 jam standing heat. Sapi-sapi yang demikian harus dikawinkan pada akhir standing heat tidak peduli kapan mulainya. Bila peternak dapat menunjukkan sapi-sapi yang demikian pada inseminator, dapat membantu sapi mencapai conception rate yang tinggi.

Sapi-sapi yang Tidak Menunjukkan  Estrus

Sekitar 10 % rata-rata sapi dalam peternakan tidak menunjukkan tanda-tanda estrus. Pada umumnya ini merupakan gejala alam yang hanya sementara, artinya tidak merupakan gejala tetap. Hanya beberapa diantaranya yang menyebabkan sterilitas permanen. Pemeriksaan oleh dokter hewan secara rutin dapat membantu identifikasi masalahnya.

Pada umumnya alasan mengapa sapi  tidak menunjukkan gejala estrus, karena sapi tersebut telah dikawinkan. Sapi yang lain yang tidak menunjukkan gejala estrus adalah :
Baru saja beranak ( dalam kisaran 45 hari)
Sapi masih terlalu muda untuk menujukkan gejala estrus
Mempunyai problema dengan masalah hormonal
Mempunyai silent heat (estrus tenang). Sapi yang mengalami silent heat mempunyai siklus estrus secara reguler (teratur) dan normal kecuali tidak menunjukkan tada-tanda estrus.

2 komentar :

Yuhandri Azwar

Selamat siang pak saya mau tanya sebelumnya sapi saya mengalami tanda2 birahi seperti mengeluarkan lendir dan saling menaiki punggung teman nya langsung saya suntik melalui IB. setelah disuntikkan hari pertama sapi tsb masih mengeluarkan lendir warna putih telur dan hari kedua mengeluarkan bercak-bercak darah dan hari ke empat dan seterusnya sapi tsb tidak mengeluarkan lendir dan bercak darah lagi. Pertanyaan saya apakah sapi tsb di suntikkan lagi atau bagaimana solusi yg bagus pak. Sekian terimakasih mohon pencerahan nya pak.

andrian benny

Menurut saya sapi bapak terlalu cepat di kawin kan. Mungkin sapi bapak baru pertama dikawinkan. Mungkin pada saay bapak IB kan sapi bapak masih dalam priode awal eatruz. Jadi itu hal biasa.. Setelah bapak kawin kan ada faktor luka pada alat reproduksi ternak nya. Mangkanya ternak itu mengeluarkan darah. Saran saya pak .silahkan bapak hub PKB. Petugas pemeriksa kebuntingan. Jadi info ny dapat langsung pak.
Terima kasih. Maaf kalau salah pak
Baru belajar juga..