Penyamakan Kulit Buaya

Kulit adalah organ pelindung, khususnya dalam fungsinya sebagai pengatur suhu tubuh, alat ekskresi serta melindungi tubuh dari gangguan fisik. Fungsi ini hilang setelah hewan dipotong dan dikuliti. Kondisi postmortem, kulit hanya terlindung dari rambut, bulu, sisik atau kerapatan serabut jaringan kulit. Kualitas kulit ditentukan oleh struktur jaringan dan komposisi kimia dalam kulit. Struktur jaringan meliputi diameter fibril, diameter serabut, tebal tipisnya berkas serabut, sudut jalinan dan tebal tipisnya kulit (mentah, awetan maupun samak). Komposisi kimia yang berpengaruh adalah kadar protein kolagen, kadar air dan lemak serta ikatan-ikatan kimia dalam kulit.

Proses penyamakan menurunkan kekuatan tarik kulit samak karena melemahnya anyaman serabut di antara beberapa unit molekul kolagen. Serabut kolagen mempunyai sifat mengikat air dan kemampuan ini tidak nyata setelah serabut kolagen diproses menjadi kulit samak. Di samping ini ikatan saling antar molekul kolagen dengan bahan penyamak tidak sekuat dibandingkan sebelum penyamakan.


Kulit segar ataupun kulit awetan komposisi kimianya lebih lengkap sehingga kekuatan tarik lebih tinggi. Penghilangan daging dan lemak yang tidak sempurna pada flesh side, akan mengakibatkan terjadinya sementasi selama penyimpanan dan berakibat pada tingginya kekuatan tarik awetan. Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula buaya ikan (Tomistoma schlegelii). Meski demikian nama ini dapat pula dikenakan secara longgar untuk menyebut ‘buaya’ aligator, kaiman dan gavial; yakni kerabat-kerabat buaya yang berlainan suku.

Buaya umumnya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, terkadang juga memangsa moluska dan krustasea bergantung pada spesiesnya. Buaya merupakan hewan purba, yang hanya sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus.

Dalam bahasa Inggris buaya dikenal sebagai crocodile. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di Sungai Nil, krokodilos; kata bentukan yang berakar dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’. Mereka menyebutnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebiasaan buaya berjemur di tepian sungai yang berbatu-batu.

Sejauh ini diketahui sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yakni: Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus mindorensis), Buaya Irian (C. novaeguineae), Buaya muara (C. porosus), Buaya Kalimantan (C. raninus), Buaya air tawar atau buaya Siam (C. siamensis), Buaya Sahul (Crocodylus sp.nov.), dan Buaya senyulong (Tomistoma schlegeli.)

Meskipun buaya hidup ditakuti orang, namun produk-produk dari kulitnya banyak disukai dan berharga mahal. Kulit buaya diolah untuk dijadikan aneka barang kerajinan kulit seperti dompet, tas, topi, ikat pinggang, sepatu dan lain-lain. Indonesia mengekspor cukup banyak kulit buaya, sekitar 15.228 potong di tahun 2002, dengan negara-negara tujuan ekspor di antaranya ke Singapura, Jepang, Korea, Italia, dan beberapa negara lainnya. Empat perlimanya adalah dari kulit buaya Irian, dan sekitar 90% di antaranya dihasilkan dari penangkaran buaya.

Teknologi Penyamakan Kulit Buaya

Telah dikemukakan bahwa para pengusaha, peternak, eksportir mendukung penerapan pola PIR pada pengusahaan buaya baik yang kehulu (penangkaran plasma peternakan inti) maupun yang ke hilir yaitu penyamakan kulit buaya. Urutan perlakuan yang lazim dilakukan terhadap kulit buaya, mulai dari habitat/peternakan hingga kulit berada dalam keadaan awet garam siap angkut dapat dilakuakn, yang pertama kali adalah

  • Penangkapan buaya yaitu penangkapan dilakukan dengan cara dijerat pada lehernya lalu ditarik ke pinggir, kemudian diikat moncong dan kaki belakangnya. 
  • Kemudian dilakukan pemeriksaan jenis kelamin dan subspesiesnya, apabila buaya yang ditangkap betina maka harus dilepas kembali tanpa memandang besar kecilnya satwa atau subspesiesnya. Ketiga dilakukan pengukuran buaya. 
  • Keempat dilakukan pemotongan buaya selanjutnya yang kelima dilakukan pengulitan (flaying) dan buang daging (fleshing) ; dilakukan oleh spesialis dengan alat pisau khusus una mempertahankan keutuhan dan kualitas kulit. 
  • Terakhir yang kelima adalah pengawet-garaman (curing) kulit buaya. 


Ada 3 macam metode pengawet garaman yaitu ; Awet-garam murni, Awet-garam merpin/pengawet (salting), Awet-garam diamonil C atau dodigen (brining). Proses penyamakan kulit buaya yang dilakukan saat ini adalah memanfaatkan kulit mentah buaya “Awet-garam” sebanyak 12 lembar dari sorong- marauke.

Adapun urutan perlakuan dari proses pengawetan hingga pada proses penyamakan adalah sebagai berikut :

  • Penimbangan, kulit mentah untuk mengetahui berat kulit yang kemudian dijadikan dasar menetapkan khemikalia yang digunakan untuk proses. 
  • Pencucian (washing), kulit dicuci dengan air bersih yang mengalir selama 10-15 menit.  
  • Pengapuran (liming), kulit dimasukkan dan digerak-gerakkan dalam larutan 200% air, 8% Ca(OH)2 dan 4% Na2S selama 30 menit, kemudian direndam dalam larutan tersebut sampai esok harinya, jika pemeriksaan menunjukkan bahwa intensitas pengapuran kurang (sisik masih sukar lepas) maka dibuatkan larutan baru dengan 15% kapur (fresh lime) dalam 200% air dan kulit diremndam lagi satu malam. 
  • Buang daging (Fleshing), kulit dibersihkan lagi dari daging sisa yang mungkin masih merekat pada kulit dengan menggunakan pisau buang daging.  
  • Buang sisik (scaling), kulit dibersihkan dari sisik dengan sikat berbulu plastik halus yang digerakkan dari kepala kearah ekor-kulit ditimbang. 
  • Buang kapur (de-liming), kulit yang ber-pH tinggi 11 harus disiapkan untuk proses awet-asam, direndam pada laruatan 200% air, 4 % Ammonium sulphate dan 0.5 % sulphuric-acid hingga pH diperoleh 7,5. 
  • Pengikisan Protein (bating), tambahkan pada cairan diatas 50 % air (700C) dan 1,5% obat bating (pancreol) dan kulit diaduk-aduk selama 45 menit. 
  • Pengasaman (Pickling), kulit kemudian dimasukkan kedalam larutan air-garam dengan komposisi 150% air dan 10% garam dan diaduk selama 10 menit, lalu ditambahkan asam format 1% (diencerkan 1:3), kulit digerak-gerakkan lagi selama 15 menit secara bertahap (3 kali) dimasukkan 0,5% asam sulfat (diencerkan 1:10) ke dalam cairan sambil terus menerus diaduk selama 30 menit pH akhir = 3. 

Rangkaian proses awet asam (pickle) dan kulit buaya sudah berubah dari mentah menjadi kulit olahan yaitu kulit awet-asam atau pickled. Kulit tersebut belum menjadi kulit tersamak (tanned skin) karena belum digunakan bahan penyamak dalam perlakuan 1-8 diatas walaupun demikian kulit pickle mempunyai daya tahan terhadap jamur/zat renik yang berliapat disbanding kulit awet-garam dan tidak memerlukan perawatan yang intensif. Perlakuan berikut merupakan perlakuan pokok pertama dalam proses selanjutnya yang disebut proses penyamakan;

  • Penyamakan “awal” (pretanning), ¾ bagian cairan pickle ditambah 14% chromduol (salah satu jenis penyamak mineral) diaduk-aduk kemudian kulit dimasukkan dan diaduk lagi selama 3 jam secara bertahap (3 kali) sodium-bicarbonat (1:5) dicampurkan kedalam cairan dengan selang waktu 15 menit, pengadukan dilakukan selama 2 jam lagi. 
  • Pemeraman (Aging), setelah dicek kematangan kulit dengan uji rebus (kookproef), kulit dikeluarkan dan kemudian ditumpuk selama semalam, maksudnya ialah agar reaksi kulit-krom menjadi lebih stabil. Disebut juga kulit wet-blue atau kulit setengah jadi. 
  • Kulit ditimbang. 
  • Penetralan, larutan 150% air, 1% NaHCO3 kulit diaduk-aduk selama 30 menit hingga pH cair 6,0. 13) Retaining (Penyamakan ulang), R/ 100% air 600C 5% mimosa Elektrak pewear kulit diaduk-aduk selama 45 menit. 
  • Fathiquoring (Peminyakan), laruatan 100% air, 2% gliserol, 2% Estroil kulit diaduk-aduk selama 45 menit, kemudian ditambah 1% HCOOH, diteruskan pengadukan 30 menit. 
  • Kulit ditumpuk satu malam. 
  • Setting out dan pengeringan. 
  • Pelemasan 
  • Finishing, larutan 40 kg kasein, 10 cc NH4(OH), 10 gr minyak sulfat, 940 cc air. Kasein terlebih dahulu dilarutkan dengan air + NH4(OH) sampai melarut semua dihangatkan diatas kompor, sampai suhunya suam-suam kuku. 
  • Kulit diulas membujur dan melintang dibersihkan 2 kali dengan sikat halus, kemudian dikeringkan. 
  • Dilakukan sekali lagi pengulasannya dengan larutan pengkilap. 
  • Dikeringkan, digosok dengan botol dengan arah sesuai dengan bentuk lekukan dan tonjolan dari kulit.

Rangkaian proses pengawetan kulit di atas merupakan rangkaian yang biasa dilakukan dalam beberapa proses pengawetan kulit, ada beberapa perlakuan yang dibedakan pada proses pengawetan dan penyamakan tergantung dari bahan kulit yang dipakai. Setelah dilakukan proses pengawetan dan penyamakan, kulit dapat digunakan oleh industri untuk berbagai kerajinan sehingga nilai kulit menjadi tinggi.

Nilai yang dihasilkan dari kulit samak buaya sangat tinggi harga jualnya, terlepas dari itu, kebutuhan bahan baku yang diperlukan tidak memadai sehingga yang ditakutkan adalah kepunahan spesies buaya tersebut. Perusahaan/peternak yang mengembangkan industri kulit buaya juga harus juga bertanggung jawab terhadap populasi dari satwa tersebut. Perusahaan yang ingin mendapatkan pendapatan yang besar dan ingin mempertahankan produk peternakan tersebut tetap diminati oleh konsumen maka perlu memaksimalkan tahap-tahap penyamakan yang sesuai dengan tata laksana yang ada agar diperoleh hasil yang tepat guna sehingga kualitas dapat terjaga dengan baik.

1 komentar :

tokorestu

bagus artikel nya gak gan,,ada contoh dompet Kulit pria nya gak gan?