Tahapan Proses Pemotongan Ternak dan analisis prospek usaha pemotongan hewan

Proses pemotongan ternak yang dilakukan di RPH (rumah potong hewan) biasanya  mengarah ke proses pemotongan secara halal dengan dengan metode yang sederhana dan tradisional. Proses pemotongan ternak di RPH dilakukan dengan teknik pemotongan langsung. Pemotongan ternak secara langsung dilakukan apabila ternak dinyatakan sehat dan dapat disembelih pada bagian leher dengan memotong arteri carotis, vena jugularis, oesophagus, dan tenggorokan. 

Sebelum proses pemotongan dilakukan sebaiknya memeriksa ternak terlebih dahulu. Syarat ternak yang dipotong yaitu:
  • Ternak dinyatakan sehat oleh dokter hewan.
  • Ternak yang dipotong bukan betina produktif.
  • Ternak yang sakit didahulukan.
  • Perlakuan sebelum dipotong: Dipuasakan agar mendapat bobot kosong, Ternak diistirahatkan, Disiram dengan air agar metabolisme lancar dan darah dapat keluar sebanyak-banyaknya.

Standard an Prosedur Operasi (SOP) pemotongan sapi yang telah ditetapkan oleh pemerintah adalah mengistirahatkan sapi yang akan disembelih ±8 jam. Tujuan pengistirahatan ternak sebelum dipotong adalah agar ternak tidak stress, pada saat disembelih darah keluar sebanyak-banyaknya dan agar tersedia cukup energi sehingga rigormorti dapat berlangsung secara sempurna. Sedangkan tujuan pemuasaan yaitu agar diperoleh bobot kosong dan untuk memudahkan proses penyembelihan terutama ternak yang agresif atau liar.


Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan sebelum proses penyembelihan (antemortem) oleh petugas yang berkepentingan. Sebelum di sembelih ternak disiram dengan air terlebih dahulu supaya kulit ternak bersih dan untuk mempercepat terjadinya kontraksi perifer, sehingga akan masuk ke jantung yang dapat meyebabkan darah keluar.

Tahapan Proses pemotongan ternak di Rumah potong hewan yaitu sebagai berikut:
  1. Ternak yang baru dating diikat dengan menggunakan tali dan dijatuhkan ke lantai dengan kepala kearah selatan dan menghadap kebarat.
  2. Ternak tersebut disiram dengan air untuk mempermudah pengeluaran darah saat penyembelihan, membersihkan ternak, dan memudahkan pengulitan.
  3. Ternak dipotong pada bagian leher dengan memotong 3 saluran, yaitu arteri carotis, vena jugularis, dan oesophagus. 
  4. Setelah ternak dipastikan mati, kepalanya lalu dipotong.
  5. Ternak digantung dengan posisi kaki belakang di atas, kemudian dilakukan pengulitan.
  6. Setelah proses pengulitan selesai dilanjutkan dengan pengeluaran jeroan.
  7. Kemudian dilakukan pembelahan karkas (karkas dipotong/dibelah menjadi 4 bagian, yaitu kaki depan kanan dan kiri, kaki belakang kanan dan kiri).
  8. Pembersihan jeroan dan pemisahan antara daging dengan tulang, lalu masing-masing ditimbang.
  9. Potongan-potongan karkas dan non karkas tersebut dikirim ke pedagang-pedagang yang ada dipasar sesuai dengan pesanan. 
Proses pemotongan pada leher dilakukan, lalu didiamkan beberapa saat hingga darah betul-betul habis dan ternak benar-benar mati. Setelah sapi dinyatakan mati, kepala ternak dipisahkan dari tubuhnya. Pengulitan dilakukan dengan cara menggantungkan sapi dengan kaki belakang ada di atas. Pengulitan dilakukan untuk menghindari terjadinya bau pada daging.

Setelah dilakukan pemisahan kulit maka dilakukan pengeluaran jeroan dan dilakukan postmortem. Pemeriksaan postmortem yang dilakukan di Indonesia antara lain yaitu pemeriksaan karkas, kelenjar limfe, kepala, bagian mulut, lidah, bibir, otot maseter, paru-paru, jantung, hati, ginjal, dan limfa 

Analisis dan prospek usaha pemotongan hewan (ternak)

Jumlah penduduk di Indonesia yang besar sangat potensial bagi permintaan produk peternakan. Peningkatan konsumsi daging per kapita sedikit saja dapat menyebabkan kebutuhan terhadap ternak potong yang sangat besar. Meningkatnya konsumsi daging karena meningkatnya taraf hidup dan tingkat ekonomi masyarakat merupakan faktor pendorong bagi berkembangnya industri daging sehingga membuka peluang usaha penggemukan dan pemotongan ternak sapi potong di Indonesia.

pemotongan hewan dapat menggunakan sapi, kambing, domba kerbau bahkan ternak unggas seperti ayam, bebek dan lainnya. pada contoh dibawah adalah analisis sederhana pemotongan hewan menggunakan ternak sapi sebagai hewan yang dipotong.

Kisaran harga
SimPO = Rp 20.000,00 sampai Rp 25.000,00 / kg berat hidup
LimPO = Rp 20.000,00 sampai Rp 25.000,00 / kg berat hidup
PO = Rp 23.000,00 sampai Rp 27.000,00 / kg berat hidup
BX   = Rp 21.000,00 sampai Rp 22.000,00 / kg berat hidup

Analisis Usaha pemotongan hewan

Berat badan sapi = 500kg
Berat karkas = 55% BB
MBR = 3 : 1
Berat kulit = 8% BB
Berat jeroan = 8% BB
Herga berat hidup   = Rp 25.000,00
Harga daging = Rp 60.000,00
Harga kulit = Rp 10.000,00
Harga jeroan = Rp 33.000,00
Harga tulang = Rp 8.000,00
Harga kepala = Rp 300.000,00
Harga kaki = Rp 120.000,00

Pengeluaran 

Harga sapi = 500 kg x Rp 25.000,00/kg
= Rp 12.500.000,00

Penerimaan
Berat karkas = 275 kg 
Daging = 3/4 x 275 kg
= 206,25 kg x Rp 60.000,00
= Rp 12.375.000,00

Tulang = ¼ x  275 kg
= 68,75 kg x Rp 8.000,00
= Rp 550.000,00

Kulit = 40 kg x Rp 10.000,00
= Rp 400.000,00

Jeroan = 40 kg x Rp Rp 33.000,00
= Rp 1.320.000,00

Kepala = Rp 300.000,00
Kaki = Rp 125.000,00

Total pemasukan = 12.375.000 + 550.000 + 400.000 + 1.320.000 + 300.000 + 125.000
= Rp 15.070.000,00
Keuntungan = Rp 15.070.000,00 - Rp 12.500.000,00
= Rp 2.570.000,00

Analisis sederhana diatas tidak mutlak, banyak faktor yang dapat mengubah nilai keuntungan yang didapat.

3 komentar :

Ndji Reza

mau nanya dong, di RPH itu ada grading kulitas dagingnya ga?

Agrinak

grading kualitas daging sebagian besar tidak dilakukan di RPH, silahkan dicek untuk memastikan ada tidaknya

Heri pramono

Kewajiban pengusaha RPH kepada pemerintah apa saja ya pak... dan jenis keqajibannya berupa laporan saja atau berupa retribusi juga...?