Panen Anak Untuk Breeding Ternak

Ukuran kinerja induk meliputi angka panen anak dan berat sapih. Panen anak adalah jumlah anak lepas sapih yang dapat diperoleh dari suatu populasi induk dalam kurun waktu tertentu. 

Panen anak sering disebut calf crop, lamb crop dan sebagainya sesuai dengan jenis ternak yang dimaksud.Panen anak akan sangat mempengaruhi pertambahan alami (natural incrase). Pertambahan alami adalah pertambahan jumlah ternak dalam suatu kurun waktu tertentu yang disebabkan oleh peristiwa alam, yaitu kelahiran dan kematian. Adanya pembelian dan pemotongan tidak masuk dalam perhitungan pertambahan alami.

Besar panen anak dalam breeding dipengaruhi oleh persentase kelahiran, litter size, dan mortalitas baik neonatal maupun prasapih. Prosentase beranak adalah jumlah induk yang beranak atau peristiwa kelahiran yang terjadi dari suatu populasi induk dalam kurun waktu tertentu. Persentase kelahiran dipengaruhi oleh interval kelahiran.

breeding ternak


Interval Kelahiran

Interval kelahiran / jarak beranak adalah jarak antara suatu kelahiran dengan kelahiran berikutnya. Interval kelahiran secara spesifik dinamakan sesuai dengan jenis ternaknya, misalnya calving interval pada sapi, lambing interval pada domba, kidding interval pada kambing, farrowing interval pada babi, foaling interval pada kuda dan kindling interval pada kelinci. Interval kelahiran yang ideal dari sapi adalah 1 tahun, babi 6 bulan, kambing 8 bulan, domba 8 bulan, dan kelinci 3 bulan. Interval kelahiran dipengaruhi oleh lama kosong dan lama bunting.

Lama Kosong

Lama kosong sering disebut sebagai service periode (periode servis), yaitu suatu periode di mana induk harus mengalami perbaikan kondisi alat/organ reproduksinya sebelum dipergunakan untuk bunting lagi, dapat juga dipahami sebagai suatu periode di mana seekor induk bisa dikawini.

Lama kosong ini ditentukan oleh post partum mating dan service perconception.
IK   =  LK + LB
LK  =  PPM + SE(S/C – 1)
Dari persamaan di atas terlihat jika S/C = 1 maka lama kosong sama dengan PPM.
Tetapi jika S/C = 2 maka lama kosong sama dengan PPM ditambah lama siklus estrus.

Post Partum Mating (PPM)

PPM adalah perkawinan kembali setelah kelahiran. Pada ternak yang spontaneus, seperti sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba, PPM sangat ditentukan oleh post partum estrous (PPE), yaitu timbulnya gejala estrus setelah melahirkan, karena mereka tidak akan dapat dikawini jika tidak estrus. Estrus dalam hal ini adalah estrus yang disertai ovulasi, karena dalam beberapa kasus dapat terjadi estrus yang tidak disertai ovulasi dan ovulasi yang tidak menunjukkan gejala estrus. 

Pada ternak non spontaneus, misalnya kelinci, perkawinan kembali dapat ditentukan sesuai dengan keinginan kita.

Post Partum Estrous (PPE)

PPE adalah estrus kembali setelah kelahiran. PPE dipengaruhi oleh laktasi dan involusi. Ternak yang baru saja melahirkan tidak akan begitu saja mempunyai siklus estrus yang normal. Segera setelah kelahiran, seekor induk akan mengalami laktasi dan involusi. Laktasi adalah keadaan di mana seekor induk mengeluarkan susu. Pada ternak potong, susu yang dihasilkan akan disusu/diminum oleh anaknya sedang pada ternak perah susu yang dihasilkan dapat diperah untuk dijual atau sebagian dapat juga diberikan pada pedetnya. Menurut Hunter (1995), selama stadium awal proses laktasi sekresi hormon trofik kelenjar hipofisis ditujukan lebih banyak untuk mendukung sintesis susu ketimbang untuk memulai kembali aktifitas ovarium yang siklis. Situasi ini mengakibatkan terjadinya periode anestrus laktasi bila hewan betina itu tidak bunting dan pada umumnya tidak mau dikawini. 

Involusi adalah keadaan di mana seekor induk mengalami penyusutan kembali ukuran alat reproduksinya (terutama uterus, servik dan vagina) setelah mengalami pembesaran karena proses kebuntingan dan kelahiran. Waktu yang diperlukan untuk involusi uterus sapi adalah 35 - 40 hari, domba 20 - 25 hari, babi 21 - 28 hari, dan kuda 8 - 15 hari.

pembatasan lain pada pemulihan fertilitas adalah menyangkut kondisi saluran reproduksi pada hewan pasca partus, khususnya uterus dan juga servik pada spesies seperti babi. Setelah jaringan uterus mengalami peregangan dan distorsi selama bunting, dan perkembangan kelenjar yang meningkat, yang diperlukan untuk mendukung konseptus, uterus harus mengalami kontraksi dan kehilangan berat yang disertai dengan pertumbuhan kembali lapisan epitelnya secara ekstensif.

Sifat elastis otot memungkinkan penyusutan yang besar dalam ukuran uterus dalam tempo beberapa jam setelah partus, dan selama periode ini kontraksi miometrium masih tetap kuat dan berperan mengeluarkan sisa plasenta, darah dan zalir dari lumen. (Konsentrasi estrogen fetoplasenta makin meningkat tepat menjelang lahir, estrogen ini berperan meningkatkan tonus dinding uterus.) Oksitosin yang timbul akibat refleks penyusuan yang pengaruhnya berulang setiap jam, misalnya oleh anak babi selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Jadi proses penyusuan dapat mempercepat proses involusi dengan menyebabkan miometrium berkontraksi.

Salah satu alasan mengapa laju involusi itu terbatas adalah karena adanya periode tidak aktif ovarium secara relatif selama anestrus laktasi, dan dengan demikian tidak-adanya siklus sekresi steroid ovarium yang berpengaruh pada jaringan uterus. Mengapa marmut dapat menunjukkan berahi yang subur dalam beberapa jam setelah partus ?.

Service perconception (S/C)

S/C adalah jumlah perkawinan yang dibutuhkan untuk terjadinya konsepsi/pembuahan. Terdapat dua pengertian jumlah perkawinan dalam penghitungan S/C. Pengertian pertama mengacu pada kejadian estrus di mana perkawinan yang dilakukan pada saat estrus yang sama ditetapkan sebagai satu kali servis, meskipun dalam saat tersebut dilakukan lebih dari satu perkawinan. Pengertian ini banyak dipakai oleh perguruan tinggi di mana S/C digunakan sebagai faktor penentu interval kelahiran. Pengertian kedua mengacu pada kejadian perkawinan itu sendiri di mana satu kali perkawinan ditetapkan sebagai satu kali servis sehingga dalam satu masa estrus dapat saja ditetapkan lebih dari satu kali servis jika dilakukan perkawinan ulangan. Pengertian ini banyak dipakai oleh dinas di mana S/C digunakan untuk menentukan jumlah straw (semen beku) yang harus dipersiapkan dalam program artificial insemination (inseminasi buatan/IB).

S/C terutama ditentukan oleh kondisi induk, ketepatan saat perkawinan dan kualitas pejantan. Fertilisasi dan perkembangan embrio memerlukan lingkungan uterus yang tidak saja memungkinkan pengangkutan dan daya hidup spermatozoa, tetapi juga dapat memberikan dukungan metabolisme bagi perkembangan embrio dalam waktu dua atau tiga harisetelah pembuahan. Embrio tumbuh menjadi stadium morula dan blastokista menjadi konseptus yang sangat besar sebelum mulai terjadi perlekatan, selama pertumbuhan itu, embrio hampir sepenuhnya tergantung pada sekresi kelenjar endometrium. Pada kenyataannya, pola sekresi hormon ovarium sebelum dan sesudah estrus ovulasi yang pertama menyebabkan terjadinya perkembangan endometrium yang sekretoris, tetapi uterus dapat menjadi lebih baik lagi dalam memberi makan embrio pra implantasi pada siklus kedua dari perubahan ovarium setelah jaringan itu terpapar pada pengaruh fase luteal penuh.

Pada keadaan di alam, pejantan akan mengetahui kapan saat terbaik untuk mengawini betina sehingga pembuahan dapat terjadi. Pada keadaan di kandang di mana betina dan pejantan dipisah, maka saat perkawinan yang tepat harus betul-betul diperhatikan oleh peternak. Saat perkawinan yang tepat ditentukan oleh kapan saat terjadi ovulasi di saat timbul gejala estrus dan daya tahan sperma di dalam saluran reproduksi betina.

Lama Bunting

Kebuntingan adalah masa di mana seekor induk memiliki nak di dalam uterusnya. Masa ini dimulai dari fertilisasi sampai kelahiran. 

Litter Size

Litter size atau jumlah anak sepelahiran adalah jumlah anak yang dilahirkan dalam satu kali masa kehamilan/kelahiran. Litter size dipengaruhi oleh ovulation rate, jumlah ovum yang dibuahi, dan kematian anak dalam kandungan.

Mortalitas Neonatal

Mortalitas neonatal adalah kematian anak pada saat menjelang dan sesaat sesudah melahirkan.

Mortalitas Prasapih

Mortalitas prasapih adalah kematian anak setelah dilahirkan sampai dengan disapih.