Pengaruh Global Warming Terhadap Kebutuhan Pakan Unggas

Global warming (pemanasan global) merupakan salah satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini. Para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas isu ini pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Begitu pentingnya isu ini, baru-baru ini panitia pemberi Nobel, The Norwegian Nobel Committee menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold (Al) Gore Jr, dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas usahanya untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang Global warming pada masyarakat dunia

ayam memakan pakan

Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18 C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan IPCC memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4 C antara tahun 1990 dan 2100. Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama Global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi

Di Indonesia, gejala pemanasan global tersebut semakin dirasakan pula dengan pergeseran musim dalam dua tahun terakhir dan bahkan menurut para ahli keadaan tersebut menyebabkan semakin panasnya suhu permukaan di wilayah khatulistiwa serta bergesernya curah hujan ke bagian utara khatulistiwa. Kondisi tersebut tentu akan berpengaruh pada kehidupan manusia, hewan dan tanaman, seperti munculnya penyakit tertentu, dan sebaiknya gejala tersebut dapat dijadikan peringatan dini bagi perkembangan kehidupan manusia dan pertanian di Indonesia. Tulisan ini akan diuraikan beberapa kemungkinan yang akan terjadi sebagai akibat dari pemanasan global tersebut.

Negara maju, seperti Amerika Serikat telah secara dini mengantisipasi dampak pemanasan global dengan memproduksi bio-fuel dari jagung untuk mengurangi kadar gas karbon di udara dari industri otomotif. Demikian pula dengan beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia yang mencoba untuk memproduksi bio-fuel dari tanaman jarak pagar dan ubi kayu. Namun yang penting pula untuk disimak pula adalah akibat dari produksi bio-fuel dari jagung yaitu akan berkurangnya ketersediaan jagung dari Amerika Serikat di pasar internasional yang tentu berdampak negatif bagi sektor peternakan, terutama unggas di Indonesia.

Indonesia merupakan net-importir produk unggas sejak tahun 1963 untuk produk telur dan sejak tahun 1973 untuk daging ayam, tetapi sejak tahun 1979 produksi ternak unggas atau ayam, baik daging maupun telur di Indonesia tumbuh dengan pesat. Produksi telur ayam domestik telah mampu memenuhi konsumsi masyarakat rata-rata sebesar 79% per tahun dan produksi daging ayam bahkan dapat memenuhi lebih dari 90% konsumsi per tahun. Tetapi sejak tahun 1993 produksi unggas relatif berfluktuasi tajam terutama sejak krisis ekonomi yang lalu sehingga impor produk ternak unggas, baik telur maupun daging juga berfluktuasi tajam.

Dengan kondisi perkembangan perunggasan di Indonesia yang demikian itu maka aspek pemanasan global yang terjadi akan berakibat pula pada produksi ternak unggas domestik. Diperkirakan ada dua faktor utama yang perlu diwaspadai, yaitu kemungkinan terjadinya serangan penyakit unggas akibat pemanasan global dan naiknya harga pakan akibat berkurangnya pasokan jagung di pasar internasional.

Kebutuhan jagung dan padi (dedak atau bekatul) sebagai bahan baku pakan ternak unggas mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada produksi daging dan telur ayam. Demikian pula dengan jagung impor yang ternyata berpengaruh signifikan pada taraf 5-10% pada produksi ternak unggas yang berarti semakin terbatasnya pasokan jagung internasional akan berpengaruh negatif pada upaya peningkatan produk ternak unggas pada masa yang akan datang. Dari analisis tersebut dapat pula diperhitungkan bahwa jagung sebagai bahan baku pakan mempunyai kontribusi sebesar 39,5% pada produksi daging ayam dan sebesar 22,6% pada produksi telur ayam.

Pada sisi lain, dengan memasukkan variabel kemarau panjang sebagai pendekatan dampak pemanasan global ternyata berpengaruh negatif signifikan terhadap produksi ternak unggas pada taraf 5%. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan suhu akibat pemanasan global akan berdampak negatif terhadap produksi ternak unggas domestik dengan kontribusi berkisar antara 7,2 sampai 10,8%. Demikian pula dengan munculnya penyakit akibat perubahan iklim yang dapat diukur dengan variabel flu burung (AI) mempunyai pengaruh negatif signifikan pada taraf 1% terhadap upaya peningkatan produksi ternak unggas. Penyakit pada unggas tersebut ternyata mempunyai kontribusi terbesar yang berkisar antara 44,0 sampai 48,4% pada penurunan produksi ternak unggas.

Dari perkiraan pada analisis produksi ternak unggas tersebut mengindikasikan bahwa pemanasan global akan berdampak negatif pada upaya peningkatan produksi ternak unggas domestik pada masa yang akan datang. Untuk itu diperlukan upaya-upaya antisipasi berupa inovasi teknologi di bidang pakan dan budidaya ternak unggas dan bila perlu inovasi teknologi yang menghasilkan bibit (DOC) yang mampu mengadaptasi kondisi perubahan iklim tersebut. Semoga pada masa yang akan datang Indonesia tidak lagi menjadi net-importir produk ternak unggas lagi.