Teknologi Pengolahan Pakan Konsentrat

Teknologi Pengolahan Konsentrat. Bahan pakan merupakan bagian dari industri produksi ternak yang penting sebab 70% dari total biaya produksi adalah berasal dari bahan pakan. Tinggi-rendahnya biaya pakan dipengaruhi oleh antara lain ketersediaan bahan pakan dalam suatu daerah dan kualitas bahan pakan. Aplikasi teknologi dalam pengolahan bahan pakan ternak merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas bahan pakan, menjaga kontinuitas ketersediaan bahan pakan selain pengoptimalkan konsumsi ternak terhadap bahan pakan, kemudahan dalam penanganan serta efisiensi tempat pakan. 

Tahapan dalam Pelleting

Bahan baku setelah dicampur akan mengalami proses pemeletan untuk memperoleh pakan berbentuk pellet. Pemeletan merupakan suatu proses mekanik yaitu penekanan agar bentuk pakan menjadi kompak. Proses pemeletan terdiri dari 3 tahap yaitu conditioning (penguapan), proses penekanan dan pendinginan (cooling).

Bahan baku setelah masuk mesin pellet akan mengalami proses pemanasan dengan uap dan penekanan. Tekanan uap yang digunakan yaitu 1,2 bar dengan suhu 80-85°C untuk mengetahui ketepatan proses dari conditioner ini dilakukan pengukuran suhu dan kadar air dari bahan pakan yang di conditioner. Suhu yang diharapkan setelah bahan pakan mengalami conditioning adalah antara 80-85°C dan kadar air sebesar 11-12% . Setelah melalui proses penguapan bahan pakan akan mengalami proses pembentukan pellet. Pada saat pembentukan pellet bahan pakan akan mengalami penekanan oleh roller dan keluar dalam bentuk pellet melalui die, yang kemudian akan dipotong oleh pisau potong yangterdapat pada dinding mesin pellet. Panjang pellet hasil pemotongan berkisar antara 1-1,5 cm. Die yang digunakan dalam pembuatan pellet ini mempunyai diameter 3-4 mm tergantung dari pakan yang akan dibuat. Hasil dari pembentukan pellet ini diambil dari sampelnya kemudian diukur suhu dan kadar airnya. Suhu  yang dikehendaki setelah pembentukan pellet adalah antara 86-90°C dengan kadar air 14,5-16%.

teknologi pengolahan pakan konsentrat

Proses terakhir dari proses pemeletan adalah cooling atau pendinginan, yaitu penurunan suhu dari pellet yang dihasilkan. Suhu pellet yang dikehendaki setelah cooler adalah antara 31-34°C. Pendingin untuk cooler ini menggunakan blocoer. Hasil dari cooler ini ada yang dibuat crumble terlebih dahulu tetapi ada pula yang langsung masuk kemesinpacking. Kualitas dari pellet dan crumble ini akan diuji andungan densitinya, ketahanannya (durability dan kadar air serta finestnya (kandungan tepung). Kualitas pellet didefinisikan sebagai tingkat kekerasan tertentu atau kestabilan yang menjamin koefisien penggunaan tanpa terjadi penyusutan selama penanganan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pellet dari segi komposisi kimia dan sifat fisiknya adalah kerapatan tumpukan (densitas), tekstur , distribusi ukuran partikel , komposisi kimia (lemak, karbohidrat, protein, dan air), serta temperatur dan kelembaban lingkungan.

Status Nutrisi Pakan Pelleting

Saat ini proses pembuatan pellet biasanya diawali dengan perlakuan awal baik berupa penambahan molases, pellet binder, lemak yang dikondisikan dengan steam (penggunaan uap panas) sebelum pakan di tekan (press) menjadi pellet. Steam pellet dimaksudkan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme dan proses gelatinizasi. Karena itu steam pellet lebih banyak digunakan saat ini dalam industri pakan ternak sementara pellet tanpa steam hanya digunakan untuk penelitian.

Rasionalisasi dari manfaat positif pada penggunaan pellet dalam peningkatan kualitas pakan tidak tunggal. Paling tidak, ada beberapa modus operandi ; Pertama, pakan berbentuk pellet dapat meningkatkan konsumsi pakan. Ini diakibatkan karena adanya peningkatan nilai bulk densitas dari pakan berbentuk pellet. Logika ini dapat dijelaskan dari fakta bahwa pakan yang dipellet cenderung menempati ruang yang lebih kecil dengan jumlah nutrisi yang sama. Kedua, pellet dapat meningkatkan kecernaan pakan. Teknologi steam pellet selain dapat membunuh mikroba – mikroba pathogen juga dapat menyebabkan terjadinya gelatinizasi dari pati yang merupakan komponen terbesar dari pakan unggas. Pati yang tergelatinizasi akan lebih mudah dicerna dari pada pati yang tidak mengalami proses gelatinizasi. Ketiga, meningkatkan energi netto untuk produksi. Unggas yang mengkonsumsi pakan yang dipellet cenderung menghabiskan waktu yang lebih sedikit dalam proses konsumsi pakan dibandingkan dengan unggas yang memakan pakan yang tidak dipellet. Ini berarti bahwa energi untuk makan dapat ditekan. Data dari Skinner-Noble menunjukkan bahwa ayam yang mengkonsumsi pakan yang dipellet hanya menggunakan 8% waktu setiap hari untuk makan dibandingkan dengan ayam yang pakannya berbentuk tepung menghabiskan 21% waktunya untuk makan. Jumlah pakan yang dikonsumsi lebih tinggi pada ayam yang mendapatkan pakan berbentuk pellet. Karena itu penggunaan pakan berbentuk pellet sangat penting ketika waktu dan tempat pakan menjadi kendala.

Packaging Dalam pakan Pelet

Fungsi pengemasan adalah melindungi pakan jadi dari cahaya dan embun serta zat pancemar lingkungan lain. Tujuan pengemasan yaitu: Mencegah kerusakan, memudahkan dalam penanganan, menghindari kontaminasi, Nilai estetikaYang perlu diperhatikan dalam pengemasan yaitu: bahan pengemas harus memperhatikan sifat fisika, kimia dan biologi bahan yang akan dikemas. Derivat polistiren dan polietilen lebih banyak digunakan sebagai bahanpengemas karena tidak mudah dicerna mikroorganisme, kuat dan ringan, daya tahan suhu bahan pengemas tidak mengandung logam beracun

Pemberian label pada kemasan perlu dilakukan untuk  memberitahukan petani mengenai identitaspabrik dan jenis pakan. Label juga menjelaskan isi dari kantong kemasan. Jika pakan dibubuhi obat,peringatan harus jelas tercantum bersama dengan aturan pakai untuk jenis ternak yang menjadikomoditas dari pakan tersebut